Parigi Moutong, yang selama ini dikenal sebagai sentra durian Sulawesi Tengah dan telah menembus pasar Tiongkok, dinilai memiliki legitimasi kuat untuk menjadi episentrum investasi berbasis agroindustri, khususnya komoditas durian.

“Kalau Parigi Moutong hari ini dikenal sebagai sentra durian sampai ke Tiongkok, maka setiap investasi yang berkaitan dengan durian di Sulawesi Tengah harus tersentra di Parigi Moutong. Kita ingin nilai tambah itu tinggal di daerah, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Lebih jauh, Faradiba menekankan bahwa industrialisasi sektor pertanian adalah keniscayaan. Tanpa hilirisasi, petani hanya akan berada di posisi rantai terlemah. Dengan hadirnya kawasan industri terpadu, ia berharap akan tercipta ekosistem yang memperkuat daya saing komoditas lokal sekaligus menjamin keberlanjutan usaha petani.

Keputusan akhir mengenai penetapan kawasan industri memang berada di tangan Gubernur Sulawesi Tengah. Namun KADIN Parigi Moutong menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses hingga kerja sama sister province Sulawesi Tengah–Sichuan benar-benar terwujud dalam bentuk investasi konkret.

Di tengah arus globalisasi dan kompetisi ekonomi antarwilayah, diplomasi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Jika terkelola dengan visi yang tepat, Parigi Moutong tidak hanya akan dikenal sebagai sentra produksi, tetapi juga sebagai simpul strategis industri agro berbasis ekspor di Sulawesi Tengah.

Sebuah langkah yang jika berhasil, dapat mengubah peta ekonomi daerah dari lumbung komoditas menjadi pusat nilai tambah. AJI