Hj.Jumarni. M dan Suharni. A

Magister Kesehatan Masyarakat,

Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu 2026

Hujan seharusnya menjadi berkah bagi kehidupan, menyuburkan sawah, mengisi sumur, dan menyegarkan bumi. Namun di Sulawesi Barat, hujan sering berubah menjadi momok yang menakutkan. Setiap musim hujan, banjir melanda, merendam rumah, memutus akses jalan, menghentikan aktivitas sehari-hari, dan meninggalkan trauma berkepanjangan bagi warga. Fenomena ini bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin dari lemahnya kesiapsiagaan, perencanaan kota yang minim, dan infrastruktur yang belum memadai.

Suharni. A

Kejadian di Kecamatan Tikke, Kabupaten Pasangkayu, pada awal 2025, menjadi bukti nyata. Curah hujan yang tinggi membuat Sungai Karama meluap, menenggelamkan puluhan rumah dan membuat jalan utama nyaris tak bisa dilalui. Warga terpaksa mengevakuasi diri ke lokasi pengungsian darurat yang minim fasilitas. “Kami harus tidur di lantai pengungsian tanpa selimut, anak-anak menangis karena takut dan lapar,” ujar salah seorang warga. Aktivitas sehari-hari lumpuh; anak-anak tidak bisa sekolah, pedagang kehilangan pendapatan, dan distribusi kebutuhan pokok terhambat. Kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk kerugian psikologis yang tak terlihat.

Dampak banjir terhadap kesehatan masyarakat sangat nyata dan serius. Air banjir yang bercampur limbah dan kotoran dapat menimbulkan berbagai penyakit, mulai dari diare, tifus, hingga infeksi kulit. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka lemah. Banjir juga meningkatkan risiko penyakit saluran pernapasan, akibat paparan air dan udara lembap di tempat pengungsian yang padat dan kurang ventilasi. Tidak jarang, warga yang mengungsi mengalami kekurangan gizi karena terbatasnya akses pangan bergizi.

Selain itu, dampak psikologis dari banjir tidak kalah mengkhawatirkan. Kehilangan rumah, harta benda, dan mata pencaharian menimbulkan stres, kecemasan, dan trauma. Anak-anak menjadi lebih mudah cemas dan sulit tidur, sementara orang dewasa kerap mengalami tekanan mental berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, tekanan psikologis ini memengaruhi kemampuan warga untuk pulih setelah bencana, sehingga risiko penyakit kronis dan komplikasi kesehatan meningkat. Kurangnya air bersih dan sanitasi di pengungsian juga memicu penyebaran penyakit menular, memperburuk krisis kesehatan masyarakat pasca-banjir.

Kasus Pasangkayu menegaskan bahwa penanganan banjir di Sulawesi Barat harus bersifat menyeluruh dan strategis. Infrastruktur drainase dan normalisasi sungai harus menjadi prioritas. Sistem peringatan dini harus diperbarui dan disosialisasikan secara massif, agar warga dapat mengevakuasi diri lebih cepat dan aman.