Namun ia juga mengingatkan, pemindahan atau pengalihan titik jualan harus disertai rekayasa lalu lintas agar tidak memicu kemacetan total. “Mungkin di jam-jam ramai pengunjung, mobil besar seperti truk dialihkan ke jalur dua,” tambahnya.
Ramadan sejatinya menjadi momentum kebangkitan ekonomi mikro khususnya bagi pelaku UMKM kuliner yang menggantungkan harapan pada penjualan takjil. Sepinya Pasar Ramadan bukan hanya soal angka pengunjung, tetapi juga tentang bagaimana strategi tata ruang, aksesibilitas, dan arus kendaraan dapat menentukan hidup-matinya sebuah pusat keramaian musiman.
Kini, pilihan ada pada langkah cepat dan terukur. Apakah pasar ini akan tetap lengang hingga pertengahan Ramadan, atau justru direkayasa ulang agar denyutnya benar-benar terasa? Di tengah suasana puasa yang baru dimulai, para pedagang tentu berharap bukan hanya lapak yang berdiri, tetapi juga pembeli yang datang silih berganti. AJI