Dalam tradisi Islam puasa memiliki kedudukan istimewa dan kedalaman makna. Puasa itu ibadah yang privat, ibadah hati yang hanya Allah dan kita yang tahu originalitasnya. Ia ibadah yang sangat interaktif antara hamba dan pencipta. Makanya puasa disebut sebagai amal perisai, yang menjaga dan memitigasi diri kita dari kecendrungan berbuat jahat. Selain itu ia sebagai mekanisme pengendalian diri dan penjernihan hati.

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda “Semua amal ibadah anak Adam itu adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untukku dan aku yang akan memberikan balasannya”. Inilah yang disadari  yang melakukan self leadership atau kepemimpinan pada diri sendiri sebagai bentuk pengendalian diri.  menjadikan puasa sebagai displin pribadinya. 

Self-leadership  atau kepemimpinan diri adalah kemampuan sadar untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku diri sendiri secara mandiri tanpa pengawasan eksternal guna mencapai tujuan pribadi maupun profesional. Ini melibatkan disiplin, inisiatif, dan motivasi intrinsik untuk mengarahkan diri menuju kesuksesan, serta mengenali kekuatan dan kelemahan diri. 

Komponen utama dari self leadershif adalah ; 1) Self-awareness yakni konsep untuk memahami kelebihan, kelemahan, nilai, dan emosi diri. 2). Self management yakni konsep untuk mengatur tindakan, waktu, dan emosi untuk mencapai tujuan. 3). Self-goal setting yaitu konsep untuk menetapkan target yang ingin dicapai. 4) Self-motivation yakni konsep untuk mengukur kemampuan memotivasi diri sendiri tanpa bergantung pada dorongan luar.

Self-leadership bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang perlu dilatih, dipelajari, dan dikembangkan secara terus menerus. Maka itu dengan berpuasa  seseorang  memiliki tingkat kesadaran tinggi bahwa pergaulan  yang di bangun bukan semata-mata diawasi oleh penegak hukum dan Masyarakat, tapi juga dikontrol langsung oleh Sang Pencipta.

Dalam Hadist Bukhori Muslim puasa itu perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa maka jangan berkata-kata kotor dan janganlah berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencelanya atau memeranginya, maka ucapkanlah sesungguhnya aku sedang puasa. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist riwayat Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal yang artinya Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Mu’adz menjawab, mau ya Rasulullah. Nabi bersabda yang artinya “Shaum itu perisai dan sedekah yang dapat menghapuskan kesalahan ibarat air dapat memadamkan api yang membara.” ***