Oleh: Prof. Slamet Riadi Cante

KEPEMIMPINAN Gubernur Sulawesi Tengah, pasangan Anwar Hafied dan Reny Lamajido membawa angin segar bagi masyarakat Sulteng melalui visi strategis dengan program  “Sembilan  Berani” yang diusung bukan sekadar janji kampanye, melainkan sebuah kontrak sosial yang menuntut perombakan fundamental pada tubuh birokrasi pemerintahan  Namun, pertanyaan krusialnya adalah: sejauh mana mesin birokrasi pemerintah  memiliki kesiapan untuk  mengonversi visi politik tersebut menjadi realitas pelayanan publik dan kesejahteraan,  yang  dapat dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok Bumi Tadulako?

Birokrasi  pemerintah diharapkan sebagai Mesin Penggerak, terhadap Visi “Sembilan Program Berani”—yang mencakup antara lain  sektor pendidikan gratis (Berani Cerdas), kesehatan gratis (Berani Sehat), hingga infrastruktur (Berani Lancar) —Program tersebut membutuhkan birokrasi yang lincah (agile). Salah satu  tantangannya adalah sinkronisasi regulasi. Misalnya bagaimana  Program  pendidikan dan kesehatan gratis memerlukan dasar hukum yang kuat agar tidak berbenturan dengan aturan fiskal pusat.

Selain itu kesiapan jajaran ASN untuk melakukan inovasi kebijakan tanpa melanggar tata kelola keuangan negara .

Digitalisasi: Tulang Punggung Efisiensi

Dalam era digital, implementasi Sembilan Program Berani mustahil berjalan optimal tanpa dukungan teknologi informasi. Keberanian untuk melakukan digitalisasi birokrasi bukan hanya soal pengadaan aplikasi, melainkan integrasi data. Misalnya, untuk mensukseskan program “Berani Berantas Kemiskinan”, diperlukan Single Identity Number yang akurat agar bantuan tidak salah sasaran.

Birokrasi Sulteng ditantang untuk meruntuhkan “ego sektoral” antar-dinas dan mulai membangun ekosistem data yang transparan dan akuntabel.

Tantangan Budaya Kerja dan Kapasitas SDM