Itu terjadi lantaran kesadaran relijius bertambah baik. Meski tak ada polisi di dalam dada manusia, namun ada sesuatu yang lebih kuat dari polisi yang mengawasi seseorang saat bulan ramadhan berlangsung. Ada kesadaran bahwa Tuhan sedang melihat mereka yang sedang berpuasa. Inilah dimensi terdalam berpuasa bahwa puasa itu membangun pengawasan internal.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menyebut puasa sebagai ibadah yang menghancurkan dominasi syahwat. Ibadah puasa menghancurkan kekuatan impulsif yang sering menjadi akar penyimpangan manusia. Puasa menahan manusia dari kemungkinan berbuat sesuatu yang lebih rendah dari kemanusiaannya sendiri.
Dalam pandangan Ibnu Arabi, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi di ruang di mana identitas sosial manusia tidak lagi relevan. Ruang di mana tidak ada status, tidak ada gelar, tidak ada reputasi. Nah, puasa membawa manusia ke ruang itu. Ruang di mana satu-satunya hubungan yang tersisa adalah hubungan antara makhluk dan Penciptanya.
Meski semua amal memiliki ukuran, memiliki angka, dan bisa ditimbang. Namun puasa berbeda, Allah SWT tidak menyebutkan ukuran pahalanya, tidak menyebut pahalanya sepuluh kali lipat, tidak menyebut pahalanya tujuh ratus kali lipat. Allah SWT hanya berkata bahwa “Puasa itu untuk-Ku.”
Para ulama memahami ini sebagai isyarat bahwa puasa bukan sekadar amal. Ia adalah peristiwa eksistensial, dimana manusia melepaskan ilusi kekuasaan atas dirinya sendiri. Puasa mengajarkan pada seseorang bahwa makan bukan karena ia bisa, tapi karena ia diizinkan. Ia minum bukan karena ia mampu, tapi karena ia diberi waktu. Karena itu, ramadhan menjadi pengingat bahwa hal paling sederhana, meski itu hanya seteguk air, itu adalah anugerah Tuhan.
Seyyed Hossein Nasr menyebut praktik spiritual seperti puasa adalah cara manusia mengingat kembali posisi ontologisnya. Bahwa manusia bukan pusat realitas. Manusia tidak lain adalah bagian dari realitas yang lebih besar. Dan puasa dilakukan dengan cara paling sederhana. Puasa membuat manusia lapar dan haus. Dan dalam kondisi lapar dan haus itu, manusia belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh buku mana pun, bahwa manusia tidak berkuasa atas apapun. Bahwa manusia bergantung hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa ia diawasi dan dilihat meski tak ada seorang pun disekitarnya
***
Menjelang maghrib, pria di ruangan itu masih duduk di tempat yang sama. Gelas air itu, masih ada di depannya. Tenggorokannya masih kering. Namun ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi melihat air di gelas itu sebagai benda. Ia melihatnya sebagai izin.
Dan ketika azan maghrib akhirnya terdengar, ia meneguk air itu perlahan. Seteguk demi seteguk. Seperti orang yang sedang khidmat menerima limpahan rahmat dan karunia Tuhan. Di momen itulah puasa mencapai tujuannya yang paling hakiki. Bahwa puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar. Puasa mengajarkan manusia bahwa hidup ini penuh dengan anugerah Tuhan yang puspa warna.
Dan…
Mungkin, itulah sebabnya Allah berfirman ; “Puasa itu untuk-Ku.” Karena hanya Tuhan yang tahu siapa yang benar-benar menahan diri ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dan hanya Tuhan yang tahu, siapa yang dalam lapar dan hausnya, akhirnya menemukan Tuhannya. Iya gak ? Weleh, weleh, weleh.***