Hari ini, Iblis mungkin tidak lagi menampakkan diri dalam rupa makhluk. Ia telah bermetamorfosis menjadi sifat, ideologi, dan perilaku yang hidup subur dalam dada manusia. Iblis telah menjadi “kata sifat” yang melekat pada siapa saja, yang merasa lebih mulia karena garis keturunan, warna kulit, kecerdasan, kekayaan, atau tingkat religiusitas.
Dalam panggung sejarah manusia, kita melihat wajah-wajah Iblis baru. Pertama, sentimen primordial. Mereka yang merasa berhak menindas hanya karena merasa lahir dari “api” (ras, bangsa, atau keturunan yang lebih unggul) dan memandang rendah mereka yang dianggap dari “tanah” (kaum marjinal).
Kedua, kesombongan intelektual, mereka yang merasa kapasitas otaknya memberi lisensi untuk menghina kemanusiaan orang lain. Ketiga, kearifan yang menghakimi. Orang-orang yang merasa paling suci sehingga kehilangan rasa empati, menganggap semua orang di luar kelompoknya sebagai ahli neraka yang layak dinista.
Apa yang dilakukan Iblis adalah bentuk kesombongan yang sangat halus karena ia bersembunyi di balik dalil. Ia tidak mengajak pada kemaksiatan yang vulgar, melainkan mengajak pada ketaatan dengan merasa diri paling benar. Inilah yang membuat kegagalan Iblis begitu mengerikan. Ia tetap bertauhid secara lisan, namun hatinya penuh dengan berhala bernama “Diri Sendiri”.
Menguji Ulang Ketaatan