Taat bukan karena sentimen, bukan pula karena fanatisme, tetapi karena kesadaran bahwa aturan, baik dalam ibadah maupun dalam hukum, hadir untuk menjaga kemaslahatan bersama. Ketika ketaatan lahir dari kesadaran moral, bukan sekadar pilihan kelompok, di situlah kedewasaan umat diuji.
Bagi yang telah mulai berpuasa Rabu 18 Februari 2026 dan baru memulai Kamis 19 Februari 2026, bukanlah masalah. Masing-masing memiliki keyakinan yang muaranya sama, yakni ketaatan kepada Allah SWT dan upaya menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya. Asal jangan tidak berpuasa selama bulan Ramadhan.
Semua perbedaan tersebut berangkat dari dalil dan ijtihad yang sama-sama memiliki landasan. Maka yang terpenting adalah menjaga ukhuwah, saling menghormati, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat persaudaraan, memperbanyak amal, serta menumbuhkan ketakwaan.
Dulu, 100 tahun yang lalu, ketika Muhammadiyah meluruskan arah kiblat juga banyak yang pertentangkan, termasuk pemerintah, pemangku adat, tokoh Agama, dan para Ulama, saat itu. Bahkan yang menentang itu juga datang dari keluarga KH Ahmad Dahlan sebagai ketua Muhammadiyah saat itu.
Faktanya, sekarang baru disadari bahwa memang arah kiblat di Indonesia keliru, dengan teknologi yang ada, kemudian jejak Muhammadiyah meluruskan arah kiblat di Indonesia 100 tahun lalu, saat ini diikuti oleh seluruh umat Islam Indonesia.
Begitu pun penetapan kalender Hijriyah global Tunggal (KHGT) yang baru dimulai tahun ini. Semua itu butuh waktu 100 tahun untuk menyadari kebenarannya. Wallahu a’lam.***