SULTENG RAYA — Final yang semestinya menjadi panggung kemegahan justru berubah menjadi drama panjang yang membelah senja di Lapangan Patriot Bambalemo, Senin (16/2/2026).

Dalam 63 menit yang sarat tensi, Isba Binangga memastikan diri sebagai kampiun Gubernur BERANI Cup 2026 usai unggul 2-0 atas Alfath Family Masigi—sebelum laga benar-benar dituntaskan oleh peluit panjang.

Disaksikan langsung Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, dan ribuan pasang mata yang memadati tribun, partai puncak itu sejatinya berjalan dalam irama tinggi sejak menit pertama. Dua tim tampil tanpa kompromi. Isba menata serangan lewat orkestrasi Ma’ruf dan Ikbal di lini tengah, mengalirkan bola ke trio depan: Muh. Ikbal, Fahrul, dan Urim Bakka.

Namun Alfath Family bukan tanpa perlawanan. Waris, Damar, Albert, dan Abd. Wahib membangun tembok kokoh di jantung pertahanan.Dari sisi lain, Azak dan Alfis merangkai serangan balik cepat yang berujung pada ancaman nyata melalui Indra Djarot, Rifal, dan Zailun. Final itu seperti duel dua gelombang: datang silih berganti, pecah di bibir kotak penalti.

Momentum pertama lahir di menit ke-22. Muh. Ikbal dijatuhkan di kotak terlarang. Wasit Sumarlin tanpa ragu menunjuk titik putih. Protes mengemuka, namun keputusan tak berubah. Muh. Ikbal maju sebagai algojo dan dengan ketenangan seorang predator, ia menempatkan bola ke sudut kiri gawang.

Skor 1-0 bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, intensitas meningkat. Alfath Family menggempur lewat umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki, mencoba meruntuhkan disiplin lini belakang Isba yang dikawal Munawir, M. Rifki, Zulkarnain, dan Sandi Gunarsa. Tetapi pengalaman Isba yang telah beberapa kali mencicipi gelar berbicara banyak: mereka tetap tegak, tetap sabar.

Lalu datanglah menit ke-63—menit yang mengubah segalanya. Saat Alfath membangun serangan, seorang pemain mereka terjatuh tanpa kontak. Bola tetap hidup. Isba merebutnya dan meluncur dalam serangan balik cepat. Wasit memberi isyarat play on. Urim Bakka menyelesaikan transisi kilat itu dengan sepakan mendatar ke sudut kanan gawang. Gol. 2-0.

Protes pun meledak. Para pemain, pelatih, hingga ofisial Alfath Family masuk ke lapangan, mempersoalkan keputusan wasit yang tidak menghentikan laga saat pemain mereka terkapar.