Permintaan itu langsung dijawab Suardi. Politisi Partai Demokrat tersebut menyatakan komitmennya untuk merealisasikan pengadaan ambulans melalui dana aspirasi (pokir) yang ia miliki. “Kalau sudah empat kali diminta dan belum terealisasi, Insya Allah kali ini akan saya wujudkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebelumnya dirinya telah mengadakan mobil ambulans dari dana pokir untuk wilayah Kecamatan Parigi Selatan. Janji di Kampal, menurutnya, bukan sekadar respons spontan, tetapi bagian dari komitmen yang sudah pernah ia buktikan.
Selain ambulans, warga juga menyampaikan sejumlah aspirasi lain: perbaikan jalan di jalur boulevard Kampal, bantuan peralatan pertukangan, tenda, mobil operasional untuk organisasi kemasyarakatan, hingga persoalan gardu listrik PLN yang berdiri di halaman rumah warga dan kerap meledak, memicu kekhawatiran akan bahaya kebakaran.
Menanggapi itu, Suardi menyatakan seluruh usulan akan ditelaah dan dilaporkan dalam rapat paripurna. Ia juga membuka ruang realisasi melalui dana pokir, dengan catatan pengajuan proposal harus jelas dan terperinci.
“Kalau membuat proposal harus jelas apa yang diminta. Jangan seperti sebelumnya, minta mesin jahit, saat kami adakan justru dipersoalkan mereknya,” ujarnya mengingatkan, disambut senyum dan anggukan warga.
Reses di Kampal sore itu bukan hanya soal daftar usulan. Ia menjadi cermin hubungan antara harapan dan kewenangan, antara kebutuhan riil dan jalur kebijakan. Di tengah perbincangan sederhana, terselip keyakinan bahwa aspirasi yang disampaikan dengan terbuka memiliki peluang lebih besar untuk diperjuangkan.
Kini, warga Kampal menanti realisasi sebuah janji agar kelak, ketika sirene berbunyi di jalanan kelurahan mereka, itu bukan lagi kendaraan pinjaman, melainkan ambulans milik sendiri. AJI