SULTENG RAYA — Siang itu di Kelurahan Kampal, percakapan mengalir tanpa sekat. Kursi-kursi plastik tersusun sederhana, warga duduk berhadapan dengan wakil rakyat yang datang membawa agenda reses.

Namun lebih dari sekadar agenda rutin, pertemuan itu menjadi ruang terbuka tempat harapan lama kembali disuarakan.

Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Daerah Pemilihan Parigi Moutong, Drs. H. Suardi, menyapa warga dalam rangkaian reses 11–14 Februari 2026 yang digelar di empat titik: Desa Tolai Timur Kecamatan Torue, Desa Beraban Kecamatan Balinggi, Kelurahan Kampal Kecamatan Parigi, dan Desa Toboli Kecamatan Parigi Utara.

Bagi Suardi, reses adalah momen kembali menjejak tanah yang memilihnya. Di sana, ia mendengar langsung denyut kebutuhan masyarakat—dari jalan yang perlu diperbaiki, fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga persoalan yang kadang luput dari meja-meja rapat resmi. Di Kelurahan Kampal, satu permintaan mencuat paling kuat: mobil ambulans.

Lurah Kampal, Djamia, SE, menyampaikan harapan itu dengan nada yang tak lagi sekadar administratif, melainkan penuh keprihatinan. Ia mengaku telah empat kali mengajukan permohonan pengadaan ambulans, baik kepada anggota dewan maupun pemerintah daerah.

Namun hingga kini, kendaraan yang sangat dibutuhkan itu belum juga hadir. “Hanya satu yang saya minta, mohon kami dibantu pengadaan mobil ambulans untuk Kelurahan Kampal. Sudah empat kali kami ajukan, tapi belum terealisasi. Jika ada warga meninggal, kami harus meminjam ke kelurahan atau desa lain. Terakhir, kami biasa meminjam ambulans milik RS Devina,” ungkapnya.

Bagi warga, ambulans bukan sekadar kendaraan. Ia adalah soal kecepatan menolong yang sakit, tentang penghormatan terakhir bagi yang wafat, dan tentang martabat sebuah kelurahan yang ingin mandiri dalam layanan dasar.