Ia menambahkan, keberadaan Saka Bhayangkara haruslah menjadi solusi sosial, bukan sekadar organisasi simbolik yang hanya aktif dalam kegiatan seremonial. “Kami ingin anggota Saka Bhayangkara menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas, bukan hanya taat aturan, tetapi mampu mengedukasi lingkungan sekitarnya. Inilah model pembinaan yang berkelanjutan dan berdampak langsung,” tegasnya.

Keterlibatan aktif anggota Saka Bhayangkara di simpang jalan ini menjadi potret kontras, di satu sisi masih kuatnya budaya melanggar aturan, di sisi lain tumbuh generasi muda yang justru mengambil peran pengabdian. Mereka tidak sekadar belajar teori, tetapi mempraktikkan langsung nilai disiplin, kepedulian sosial, dan tanggung jawab publik.

Lebih dari sekadar pengaturan lalu lintas, kegiatan ini mencerminkan arah pembinaan Saka Bhayangkara yang progresif, mencetak generasi muda yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, serta berani tampil sebagai agen perubahan. AMR