SULTENG RAYA – Pasar otomotif di Sulawesi Tengah terus menunjukkan geliatnya. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya mobilitas masyarakat, kebutuhan akan kendaraan roda empat yang efisien, nyaman, dan terjangkau semakin mendesak.

Di antara berbagai pilihan yang tersedia, Toyota Calya mencatatkan diri sebagai salah satu mobil paling diminati, bahkan menyandang predikat terlaris di kelasnya.

Kalla Toyota Sulteng mencatat, penjualan di daerah tumbuh 12 persen pada Juli 2025, Toyota Calya menjadi salah satu unit paling laris.

Keberhasilan ini bukan tanpa alasan. Toyota Calya dikenal sebagai mobil keluarga yang hemat bahan bakar, memiliki kapasitas tujuh penumpang, serta banderol harga yang relatif ramah di kantong. Karakter ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sulteng, terutama mereka yang memiliki mobilitas tinggi antarwilayah—dari kota hingga pelosok kabupaten.

“Bagi kami di Palu, mobil seperti Calya ini benar-benar pas. Bisa dipakai untuk antar anak sekolah, belanja, sampai bepergian jauh ke kampung. Bahan bakarnya irit, perawatannya juga gampang,” kata Suyanto, salah seorang konsumen di Palu.

Di tengah kondisi jalan di Sulteng yang beragam, mulai dari aspal mulus perkotaan hingga medan berbatu di pedesaan, Calya dianggap mampu memberikan kenyamanan berkendara. Suspensinya dinilai cukup stabil, sementara kabinnya lega untuk membawa keluarga maupun barang bawaan.

Data dari beberapa dealer Toyota di Sulteng menguatkan tren tersebut. Sejak awal tahun hingga pertengahan 2025, Calya konsisten menduduki posisi teratas dalam penjualan di segmen Low Cost Green Car (LCGC) MPV. Angkanya menyalip pesaing sekelas, bahkan menorehkan kontribusi signifikan terhadap total penjualan Toyota di daerah ini.

“Dari sisi penjualan, Calya memang menjadi backbone kami di Sulteng. Konsumen melihat value for money yang sangat jelas: harga terjangkau, kualitas terjamin, serta jaringan servis Toyota yang mudah diakses,” jelas Branch Manager Kalla Toyota Juanda, Risal Nurdin.

Selain faktor harga dan kualitas, ada pula aspek psikologis yang tak bisa dipisahkan. Bagi banyak keluarga muda di Sulteng, memiliki mobil bukan lagi sekadar kebutuhan transportasi, tetapi juga simbol pencapaian. Calya hadir menjawab dua sisi itu—fungsi dan gengsi. Bentuknya yang modern dengan desain stylish memberi kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.

Di sisi lain, tren penjualan Calya juga dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli masyarakat. Data BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulteng berada di atas rata-rata nasional, dengan kontribusi besar dari sektor pertambangan, perkebunan, hingga UMKM. Lonjakan pendapatan tersebut berimbas pada naiknya permintaan kendaraan pribadi, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun investasi jangka panjang.

“Kalau dulu banyak yang memilih motor, sekarang masyarakat mulai beralih ke mobil. Apalagi Calya ini cicilannya ringan, jadi lebih terjangkau,” tambahnya.

Fenomena Toyota Calya di Sulteng sekaligus menjadi cermin bagaimana pasar otomotif daerah memiliki karakteristik unik. Mobil bukan hanya alat transportasi, melainkan bagian dari gaya hidup yang menyesuaikan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya. Dan sejauh ini, Calya berhasil merebut hati konsumen dengan menawarkan kombinasi antara kepraktisan, kenyamanan, dan prestise. RHT