Bupati Erwin juga memaparkan potensi besar yang dimiliki Kabupaten Parmout, terutama di sektor pertanian dan perkebunan. Dia memaparkan, pada tahun 2024, Parmout mencatat hasil produksi yang signifikan yakni, kelapa dalam sebanyak 35.532 ton, kakao 28.402 ton, serta cabai rawit 5.824,5 ton per musim tanam. Bahkan, Parmout menjadi kontributor utama produksi beras di Provinsi Sulawesi Tengah dengan total produksi mencapai 251.299 ton.
“Komoditas-komoditas ini siap didistribusikan untuk mendukung stabilitas pasokan di wilayah lain, termasuk ke Kota Tomohon,β jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati Erwin menyampaikan harapan agar kerja sama itu akan melahirkan sinkronisasi data harga secara berkala, terbentuknya jalur distribusi lintas daerah yang efektif dan efisien, serta pengendalian pasokan di saat gejolak harga. Dia menyebut bahwa kolaborasi itu tidak hanya akan menguntungkan kedua daerah dalam mengendalikan inflasi, tetapi juga membuka ruang luas bagi pengembangan potensi ekonomi unggulan, baik di sektor pertanian, perdagangan, maupun industri kecil dan menengah.
“Kota Tomohon tentu juga memiliki potensi besar dalam mendukung stabilisasi rantai pasok antar wilayah. Dengan kerjasama ini, saya yakin kita bisa menghadirkan mekanisme perdagangan yang saling menguntungkan,β tandasnya.
Kegiatan itu turut mendapat dukungan dari Bank Indonesia. Kehadiran Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara menegaskan pentingnya dukungan regulasi dan teknis dari sektor keuangan dalam pengendalian harga dan stabilisasi distribusi.
Acara diakhiri dengan penandatanganan dokumen kerjasama secara simbolis, disaksikan oleh seluruh pejabat dan peserta yang hadir. Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antar wilayah merupakan fondasi penting dalam menjawab tantangan ekonomi dan sosial di masa depan. */AJI