FGD berhasil mengumpulkan fragmen pengetahuan yang tercerai-berai. Dari ritual mombolian yang menyimpan kearifan pengobatan tradisional, hingga filosofi nama desa Lembanato—malombanakon atau “menggusur tanah”—yang merefleksikan sejarah migrasi suku Bobongko dari Balanggala ribuan tahun silam. Setiap cerita yang terungkap bukan sekadar data, melainkan puzzle identitas peradaban kecil di tengah samudera.
Upaya pelestarian ini adalah investasi masa depan. Kearifan Bobongko dalam menjaga keseimbangan alam selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Layaknya mangrove yang akarnya saling menguatkan, pengetahuan tradisional mereka dapat menjadi tameng menghadapi krisis iklim dan disrupsi budaya. Langkah kecil di Togean ini, jika konsisten, mampu menginspirasi dunia: kebudayaan adat bukan relik masa lalu, melainkan kompas menuju harmoni.
Setiap kata yang terdokumentasi adalah kemenangan—bagi Bobongko, Indonesia, dan warisan kemanusiaan yang tak ternilai. *ENG