SULTENG RAYA- Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Dr. H. Mustamin Idris, M.Si. menerima dua mahasiswanya yang telah menyelesaikan program KKN Internasional di Thailand.
Kedua mahasiswa itu masing-masing dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris semester VII, yakni Aldin dan Sri Megawati Irwan. Keduanya diterima langsung di ruang kerja dekan, Kamis (7/11/2204).
Ini adalah kali kedua FKIP Unismuh Palu mengirim mahasiswanya melaksanakan program KKN ke luar negeri, sebelumnya juga dua mahasiswanya dikirim ke Malaysia.
“Alhamadulillah, difasilitasi Universitas dan Kantor Urusan Internasional (KUI) Unismuh Palu, kali ini kami kembali mengirim dua mahasiswa untuk melaksanakan program KKN Internasional,”sebut dekan.
Dekan berharap, kepulangan dua orang ini bisa memotivasi mahasiswa lainnya untuk mengikuti program ini, karena begitu banyak pengalaman yang bisa mereka dapatkan selama KKN di luar negeri. Pengalaman yang didapatkan di luar negeri tidak mungkin mahasiswa lainnya dapatkan jika hanya melaksanakan KKN di dalam negeri.
“Pengalaman yang baik dan ilmu yang mereka dapatkan di Thailand, tentunya kami harapkan itu bisa diterapkan di sini, misalnya kedisiplinan dan telorenasi,”sebut dekan.
Sebelumnya, terdapat tujuh orang mahasiswa FKIP Unismuh Palu yang terjaring untuk mengikuti program ini, namun seiring perjalanan waktu dan setelah melewati seleksi lanjutan, tersisa dua orang yang dapat dinyatakan lolos mengikuti program tersebut.
Mahasiswa yang lolos diberangkatkan ke Thailand pada tanggal 6 Agustus 2024 dan kembali ke Indonesia tanggal 5 Oktober 2024.
Aldin dan Sri Megawati saat ditemui menceritakan begitu banyak pengalaman yang mereka dapatkan selama dua bulan melaksanakan KKN Internasional di Negara Gajah Putih itu, mereka dapat bertemu dengan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, mereka disatukan dalam program KKN Internasional.
Dalam pelaksanaan program KKN Internasional itu, mereka di tempatkan di Provinsi Pattani, yang secara geografis terletak di semenanjung Melayu dengan pantai Teluk Thailand di sebelah utara.
Di sana banyak masyarakat yang berentis Melayu dengan bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Melayu Pattani, Thailand, dan sesekali menggunakan bahasa Inggris. Kedua mahasiswa FKIP Unismuh Palu ini di tempatkan di sekolah yang berbeda.
Sri di tempatkan di dalam kota sementara Aldin di tempatkan di luar kota. “Kami di tempatkan di sekolah yang berbeda, karena tidak boleh satu perguruan tinggi di tempatkan di sekolah yang sama,”sebut Sri.
Katanya, Sri di tempatkan di sekolah swasta setingkat Sekolah Dasar, sementara Aldin di tempatkan di pesantren yang di dalamnya terdapat sejumlah sekolah setingkat SD, SMP, dan SMA.
Selama di sana, Sri mengajar mata pelajaran Pendidikan Bahasa Inggris dan Matematika, khusus mata pelajaran matematika pengantarnya menggunakan bahasa Inggris, sesekali diselingi bahasa Melayu Pattani. Sementara Aldin mengajar Pendidikan Bahasa Inggris, di tingkat SD, SMP, dan SMA.
“Bahasa pengantar di sana itu terbagi dua, untuk kelas bawah menggunakan bahasa Melayu Pattani, dan kelas atas menggunakan bahasa Inggris,”jelas Aldi.
Keduanya mengakui, jika masyarakat di Provinsi Pattani adalah masyarakat yang ramah, bahkan keduanya mengaku betah tinggal bersama masyarakat Pattani. “Awal-awalnya saja kita rindu rumah di Indonesia, lama-lama mulai merasa betah di sana, karena masyarakatnya sangat ramah,”sebut Sri diamini Aldin.
Namun di sisi lain, yang namanya beda negara beda budaya, ada saja yang membuat tetap rindu dengan kampung halaman, terutama jika menyangkut kuliner atau makanan, Masyarakat Thailand pada umumnya menyukai makanan manis, asam, dan asin, hal yang sama berlaku pada masyarakat Provinsi Pattani. Sementara Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Tengah menyukai makanan pedis. “Salah satu kendalanya makanan, makanan di sana Manis, Asam, dan Asin, sementara kita kan suka yang pedis-pedis, jadi agak susah makannya,”sebut Aldin.
Hal yang sama kata Sri, selain terkendala makanan juga pakaian, masyarakat di Pattani khususnya perempuan menggunakan jilbab panjang atau jilbab Syar’i sehingga mengharuskan dirinya menyesuikan dengan pakaianya masyarakat Muslimah Pattani.
Selain itu juga menyangkut bahasa, terutama bahasa Melayu Pattani dan bahasa Thailand. “Bahasa Melayunya beda sekali dengan bahasa Melayu yang kita kenal, beda Melayu Malaysia dengan Melayu Pattani, apalagi bahasa Thailand,”jelasnya.
Namun selama di sana, keduanya mengaku belajar berdisiplin, harus bangun jam 4 subuh, bangun beraktifitas mulai shalat hingga berangkat pagi ke sekolah menyambut peserta didik di depan pintu masuk sekolah. Makan bersama-sama dengan guru dan peserta didik, meskipun menu makanannya dipisahkan antara guru dan peserta didik (mungkin terkait kebutuhan nutrisi dan gizi).
Di sana keduanya juga menyaksikan tidak diperbolehkan peserta didik membawa HP masuk ke sekolah, jika ditemukan akan disita pihak sekolah dan dikembalikan saat peserta didik pulang kembali ke rumah. “Satu hal lagi, selama di sana kami tidak menemukan ada peserta didik membuli peserta didik lainnya, di sana pendidikan karakternya bagus,”sebut Aldin dan Sri. ENG