Penulis: Nurtanti / Mahasiswi S2 Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid

MEDIA telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari kita, memainkan peran penting dalam menyebarkan , mempengaruhi opini publik, dan membentuk budaya populer. Namun, dengan munculnya teknologi digital dan , kita telah menyaksikan inovasi media yang mengubah lanskap komunikasi secara drastis. Inovasi media yang terjadi saat ini tidak hanya melibatkan pergeseran dari media tradisional ke media digital, tetapi juga mencakup transformasi dalam cara kita mengonsumsi, memproduksi, dan berinteraksi dengan konten media.

Perkembangan teknologi seperti internet, media , dan perangkat mobile telah membuka pintu bagi akses yang lebih luas terhadap informasi dan memungkinkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses komunikasi. Salah satu dampak utama dari revolusi media adalah terciptanya ruang publik digital yang memungkinkan siapa pun untuk berbagi pendapat, menyuarakan aspirasi, dan berpartisipasi dalam dialog global.

Media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, telah menjadi platform utama di mana informasi dapat dengan cepat menyebar dan opini dapat saling bertukar secara langsung. Selain itu, inovasi media juga telah mengubah paradigma bisnis media, dengan perusahaan media tradisional harus beradaptasi dengan model bisnis yang lebih digital dan berbasis data. Model langganan, iklan online, dan konten berbayar telah menjadi bagian dari strategi pendapatan yang baru bagi industri media, sementara platform digital seperti dan Netflix telah memperkenalkan model distribusi konten yang revolusioner.

Penentuan posisi atau pembidikan pasar menentukan pesaing perusahaan, perusahaan harus meneliti posisi pesaing dan memutuskan posisinya yang . Penentuan posisi adalah tindakan untuk merancang citra perusahaan serta yang ditawarkan, sehingga pelanggan dalam suatu segmen memahami dan menghargai kedudukan perusahaan dalam kaitannya dengan pesaing. Penentuan Posisi meliputi tiga langkah, yaitu mengenali keunggulan bersaing yang mungkin untuk dimanfaatkan, memilih posisi yang paling tepat, dan mengisyaratkan secara efektif kepada pasar tentang posisi yang dipilih perusahaan.

Strategi penentuan posisi produk perusahaan akan memungkinkan perusahaan untuk melangkah ke langkah bersaingnya, penentuan posisi dapat dikelompokkan menjadi penentuan posisi menurut nilai, pesaing, manfaat, penggunaan, pemakai, kategori produk dan atribut (M.Suyanto.2005). Namun, inovasi media juga membawa tantangan baru, seperti penyebaran informasi palsu, privasi data, dan ketidakpastian tentang keberlanjutan model bisnis media digital.

Peran media dalam membentuk opini publik juga menjadi semakin kompleks, dengan adanya perdebatan tentang kredibilitas media, bias dalam liputan berita, dan pengaruh media terhadap proses demokrasi. Dalam menghadapi inovasi media ini, penting bagi kita untuk mengembangkan literasi media yang kuat, menghargai keberagaman sumber informasi, dan mempertahankan kritisisme dalam mengevaluasi konten media. Pendidikan media yang holistik dan inklusif juga perlu ditingkatkan untuk mempersiapkan generasi masa depan dalam menghadapi tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh media digital.

Dengan demikian, inovasi media bukan hanya tentang perubahan teknologi, tetapi juga tentang perubahan sosial, budaya, dan politik yang mendalam. Dengan kesadaran akan dampaknya yang luas, kita dapat memanfaatkan potensi positif dari inovasi media untuk memperkuat demokrasi, memajukan pembangunan, dan memperkaya kehidupan kita melalui akses yang lebih luas terhadap informasi dan pengetahuan. Media baru, seperti media sosial, situs web, dan platform digital lainnya, menawarkan kemampuan untuk mencapai audiens secara langsung, berinteraksi secara real time, dan mengukur kinerja kampanye dengan lebih akurat.

Dengan adanya media baru, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih personal dengan audiens, menyampaikan pesan secara kreatif, dan menghasilkan konten yang viral. Di sisi lain, media tradisional, seperti televisi, radio, dan cetak, masih memiliki daya jangkau yang luas dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat. Meskipun mungkin terlihat kuno, media tradisional tetap menjadi sarana yang efektif untuk membangun kesadaran , mencapai target audiens tertentu, dan memberikan legitimasi kepada suatu pesan.

Melalui inovasi media, perusahaan dapat menggabungkan kekuatan media baru dan media tradisional dalam strategi komunikasi mereka. Misalnya, perusahaan dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan produk baru, kemudian menguatkan pesan tersebut melalui iklan televisi yang menciptakan kesan yang lebih mendalam. Dengan pendekatan holistik ini, perusahaan dapat menciptakan pengalaman komunikasi yang kohesif dan berdampak.

Selain itu, inovasi media juga melibatkan pemanfaatan teknologi terbaru, seperti kecerdasan buatan dan analitika data, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kampanye media. Dengan memanfaatkan data dan analisis yang akurat, perusahaan dapat mengoptimalkan strategi komunikasi mereka, mengukur kinerja dengan lebih baik, dan mengambil keputusan yang lebih tepat waktu. Dalam komunikasi, faktor media menduduki peran yang sangat penting dalam proses penyebaran pesan. Bahkan bisa dikatakan, suatu pesan bisa efektif atau tidak, tersebar luas atau tidak sangat bergantung ketepatan dalam memilih media tersebut.

Kesalahan memilih media tentu akan mengakibatkan pesan yang disampaikan kurang mengena. Untuk itu, menggunakan banyak media bisa mengurangi kekurangan yang dimaksud. Beberapa pertanyaan itu menjadi dasar pertimbangan pemilihan media yang perlu diperhatikan (Nimmo.1993) sebagai berikut: media apa yang sering digunakan orang, media apa yang dipercayai orang dan media mana tertentu untuk apa digunakan. Dengan demikian, inovasi media tidak hanya tentang memilih antara media baru dan media tradisional, tetapi juga tentang menggabungkan keduanya secara cerdas dan strategis.

Dengan mengakui keunggulan masing-masing jenis media dan mengintegrasikannya dalam strategi komunikasi yang holistik, perusahaan dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih efektif dan efisien. Di negara-negara Asia yang mayoritas penduduknya sudah akrab dengan teknologi tinggi, seperti Jepang dan Korea Selatan, kekhawatiran bahwa media cetak akan ditinggalkan mulai terasa.

Terlebih di Jepang yang senantiasa berkiblat pada fenomena yang terjadi di Barat, walaupun sebetulnya tingkat sirkulasi media cetaknya sampai saat ini masih luar biasa. Oplah Yomiuri Shimbun misalnya, sekitar 10 juta eksemplar. Namun, menurut Editor Senior Yomiuri Shimbun Akira Fujino, saat ini pemasukan iklan untuk media-media cetak di Jepang umumnya turun 10-20 persen. Meski demikian, masa depan media cetak di Asia tak bisa disimpulkan secara sederhana karena masing-masing negara memiliki kondisi sosial sekaligus perjalanan persnya yang unik.

Di Indonesia, misalnya, tantangan industri pers sampai tahun 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dirinya. Tonggak kebebasan itu ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998. Media ikut berperan dalam penetapan agenda-setting perjalanan demokrasi di Indonesia. Dan, menjaga apa yang telah diraih dalam proses reformasi, seperti: memberi peran yang lebih besar bagi masyarakat madani, mencegah militer kembali ke panggung politik, menjamin proses checks and balances di antara tiga pilar kekuasaan, menjunjung penegakan hukum dan penghormatan pada , semua itu menjadi prioritas utama pers Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di Korsel dan India.

Perjuangan terhadap kebebasan pers di Korsel berpuncak setelah rezim militer tumbang tahun 1992. Sedangkan di India yang sudah lebih lama memiliki tradisi pers yang demokratis, kontribusi media cetak begitu dominan dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, di sejumlah negara di Asia, roh jurnalisme begitu erat dengan pembangunan demokratisasi.

Sehingga, bisa jadi persepsi tentang “ancaman” terhadap industri pers berbeda dari satu negara dengan negara lainnya. Misalnya saja, mengenai penetrasi new media. “Di India, media internet belum mengancam dominasi media cetak. Bahkan, survei nasional mengenai tingkat keterbacaan justru menunjukkan lonjakan signifikan untuk surat kabar-surat kabar India,” kata Unni Rajen Shanker, Editor Eksekutif The Indian Express yang berbasis di New Delhi.

Alasannya mungkin lebih kurang sama dengan situasi di Indonesia. Kedua negara ini masih berjuang melawan tingkat buta huruf. Di Indonesia jumlahnya masih sekitar 11 juta orang, dengan usia 15 tahun ke atas. Di India yang penduduknya lebih dari 1 miliar, angkanya lebih tinggi. Tingkat akses terhadap internet di India maupun Indonesia pun masih rendah. Hanya sekitar 25 juta orang di Indonesia saat ini yang memiliki akses terhadap internet atau sekitar 11 persen dari populasi yang berjumlah 228 juta orang. Dengan kata lain, kalaupun saat ini media cetak dan televisi kondisinya sedang “berdarah-darah”, hal itu lebih dikarenakan faktor resesi .***(Sumber: SindoNews.Com).