Oleh: Muhamad Alfin Bayhaqi

Konsep work-life balance akhir-akhir ini sering dibicarakan khalayak umum, khususnya generasi Z yang memiliki pandangan mengenai work-life balance dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi Z atau kita kenal dengan “” memberikan pandangan lebih dalam atas pekerjaan dan hidup mereka yang mempengaruhi bagaimana mereka memandang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.

Dari masa ke masa, konsep ini telah mengalami evolusi. Apabila kita melihat pada era Baby Boomers, pekerjaan dianggap sebagai tanggung jawab utama yang harus diprioritaskan, dengan sedikit ruang/waktu untuk kehidupan pribadi. Namun, Gen Z membawa paradigma dan perspektif baru. Mereka menginginkan suatu pekerjaan yang memberi mereka fleksibilitas, kebebasan, dan kesempatan untuk tumbuh, baik secara profesional maupun pribadi.

Seiring dengan menjamurnya perkembangan teknologi dan media sosial, Gen Z memiliki akses tak terbatas untuk mencari sebuah yang memungkinkan mereka untuk bekerja dari mana saja dan kapan saja. Namun, di sisi lain, dengan suguhan teknologi yang semakin canggih, batasan antara pekerjaan dan waktu pribadi menjadi kabur. Artinya, Gen Z memerlukan disiplin yang lebih tinggi untuk memastikan keseimbangan.

Satu hal yang membedakan antara Generasi Z dan pendahulunya adalah penekanan pada kesejahteraan mental, Generasi Z lebih fokus bagaimana kesejahteraan mental mereka dalam mencari pekerjaan yang mendukung hal ini. Bagi mereka, pekerjaan bukan hanya tentang penghasilan, tetapi juga tentang bagaimana pekerjaan tersebut mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. work-life balance adalah tentang bagaimana kita dapat bekerja dengan cara yang paling sesuai dengan dan tujuan kita, dengan tetap menjaga kesejahteraan kita secara keseluruhan untuk memberikan pengaruh positif yang akan berdampak pada diri kita. Penulis adalah ASN KPPN Tolitoli