SULTENG RAYA – Setelah melalui proses mediasi, kedua belah pihak yang sebelumnya terlibat pertikaian di Pasar Inpres Manonda, Sabtu (19/8/2023) silam, memilih jalur damai.

Hal itu ditandai dengan pencabutan laporan polisi yang berlangsung di Mapolresta , Rabu (10/1/2024). Kegiatan itu dihadiri langsung oleh Alimuddin alias Gondrong yang menjadi salah satu korban luka dalam peristiwa itu.

Dalam keterangannya, Alimudin mengaku memilih jalur restorative justice dan mencabut laporan polisi demi kepentingan masyarakat umum. “Kami memilih jalan damai. Kami berharap tidak ada lagi dendam antara keluarga dan kita dapat hidup rukun. Tidak ada gunanya bertikai,” tegas Alimudin.

Sementara, Ketua GMPI Kota Palu, Amat Banjir yang mendampingi korban Alimudin saat melakukan pencabutan laporan polisi mengaku mengapresiasi upaya yang dilakukan seluruh pihak selama masa mediasi proses hukum kasus itu.

Amat Banjir berharap, kesepakatan damai itu diikuti upaya pencegahan konflik antarwarga yang sewaktu-waktu dapat terjadi. “Saya tadi menyampaikan kepada Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid untuk mendukung pembentukan forum komunikasi tokoh masyarakat di wilayah itu dan Alhamdulillah beliau setuju,” tutur Amat Banjir.

Selain dari unsur pemerintahan dan kepolisian, juga hadir berbagai tokoh masyarakat rumpun Da'a, diantaranya Sekjend Rumpun Da'a Sulawesi Tengah, Sarfan.

Dirinya mengaku, berterimakasih kepada pihak yang sejak awal telah mengupayakan langkah damai dalam perkara itu. Namun demikian, Sarfan mengatakan perlu ada tindak lanjut, sehingga perdamaian itu dapat berkepanjangan. “Alhamdulillah langkah damai telah disepakati. Saya sependapat dengan perwakilan keluarga Mandar, Amat Banjir, perlu tindak lanjut untuk memelihara perdamaian di kompleks Pasar Inpres Manonda Palu, sehingga pedagang dapat beraktivitas dengan tenang,” ujarnya.

Ketua Majelis Adat Belota Pura, Ferdin mengatakan, akan menyebarluaskan kesepakatan damai tersebut ke seluruh warga rumpun Da'a di wilayahnya, sehingga kedepannya seluruh warga, khususnya para pemangku adat dapat memegang peran masing-masing dalam memelihara perdamaian. “Kami bersyukur kedua belah pihak telah mencabut laporan polisi dan memilih jalan damai,” katanya.

Sebelumnya, keluarga korban lainnya, Ajiran (21) telah lebih dulu mencabut laporan polisi di Mapolresta Palu, sehingga proses hukum terhadap salah seorang pelaku lainnya juga dihentikan.

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid mengatakan, setelah kesepakatan damai dilakukan, pihaknya akan tetap berperan aktif memberikan bantuan kepada korban dan keluarganya, seperti bantuan pemilihan ekonomi keluarga, pengobatan, hingga biaya pendidikan untuk anak korban.

Wakapolresta Palu, Wakapolresta Palu, AKBP Andi Batara Purwacaraka, meminta agar semua pihak berperan aktif dalam menjaga perdamaian di wilayah itu. “Ini jadi pelajaran berharga, Insya Allah tidak terulang kembali,” tuturnya.

Diketahui, sejak peristiwa itu, pihak Mejalis Dzikir Nuurul Khairaat Palu yang dipimpin langsung Habib Sholeh Al Aydrus (Habib Rotan) terlibat menciptakan situasi aman di lokasi kejadian. Mulai dari melakukan penjagaan area pasar hingga rutin melaksanakan zikir dan doa bersama. */YAT