Air adalah benda cair yang sangat dibutuhkan oleh mahkluk hidup, sehingga tercipta menjadi sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Ini berarti, air menjadi sangat potensial dalam kehidupan manusia. Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapatkan, karena pada air tersimpan energi potensial (pada air jatuh/head) dan energi kinetik (pada air mengalir/debit).

Tenaga air (hydropower) adalah energi yang diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki air dapat dimanfaatkan dan digunakan dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik.
Laporan: Helmy Jatmika-Sulteng Raya
Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Februari 2023, PLTA menjadi santer terdengar di telinga kita. “Hari ini saya sangat senang sekali karena kita semuanya akan meresmikan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso Energy dan Malea yang itu adalah berarti energi hijau, yang berarti adalah energi baru terbarukan (EBT),” ujar Presiden dalam sambutannya waktu itu.

Selain Poso Energy, ada juga PLTA Malea berkapasitas 90 MW yang berada di Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang dikembangkan oleh PT Malea Energy, anak usaha PT Bukaka Teknik Utama. Dengan beroperasinya kedua PLTA tersebut, bauran EBT di sistem kelistrikan Sulawesi meningkat menjadi 38,38 persen.

“Sangat disayangkan energi bersih dan ramah lingkungan serta renewable jika tidak dibangkitkan, dan Poso Energy dengan bangga sudah memberikan kontribusi kepada Indonesia melalui PLTA Poso Energy,” ujar Manager Bisnis PT Poso Energy, Ismet RK kepada peserta Workshop inisiasi PWI Sulteng akhir November 2023.
Potensi aliran sungai Poso hingga 510 meter di atas permukaan laut sangat besar untuk dibangkitkan menjadi energi listrik hingga 900 MW (Mega Watt). Selain itu, sumber daya manusia memakai Engineer muda Indonesia yang sudah ditraining secara profesional. Engineer muda inilah yang terjun langsung dalam perencanaan dan design, kontruksi, testing and comissioning (tescom), operasional hingga perawatan/maintenance mesin.

Selain itu, pendanaan dari konstruksi hingga maintenance PLTA cukup terjangkau sehingga perbankan lokal pun mampu mendanai dan tidak perlu memakai bantuan dari luar negeri. Poso Energy sebagai sumber energi lokal, yang airnya selain ditransfer sebagai air mineral juga dapat ditransfer menjadi energi listrik yang tidak akan berpengaruh dengan perang Ukraina dan Rusia, serta Palestina dan Israel, karena PLTA memanfaatkan tenaga air bukan dari minyak bumi dan gas, harganya berpengaruh jika terjadi perang negara penguasanya.

Energy listrik yang dihasilkan oleh Poso Energy hingga 515 MW dikontrak built on (BOT) ke PLN, sehingga PLTA Poso sebagai produsen listrik swasta akan menjadi milik PT PLN.
Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral mencatat total energi terpasang EBT di 2022 yakni 12.557 MW terdiri dari PLT Bayu 154,3 MW; PLTS 271,6 MW; PLT Bioenergi 3.086,6 MW; PLT Panas Bumi 2.355,4 MW; dan PLT Air 6.688,9 MW.

PRINSIP KERJA DAN SISI LAIN PLTA
Prinsip kerja PLTA yakni melalui performa Turbin air yang dapat menghasilkan energi listrik dengan cara mengubah energi kinetik menjadi energi mekanik. Air akan memutar roda turbin, Energi tersebut selanjutnya akan diubah menjadi energi listrik melalui generator. Namun, untuk mengubah air menjadi energi listrik diperlukan debit air yang tinggi untuk memutar turbin sehingga energi listrik yang dihasilkan juga akan banyak.

Dalam konstruksi PLTA biasanya termasuk membangun bendungan untuk menampung sumber daya air. Bendungan ini juga bisa difungsikan sebagai pengatur irigasi. PLTA adalah energi bersih yang tidak menghasilkan emisi karbon karena memanfaatkan potensi energi air. Meski demikian, setiap teknologi pasti ada kelebihan dan kekurangannya, tak terkecuali PLTA.

Ini sering menjadi buah bibir dalam masyarakat awam yang sering kali mudah terprovokasi dengan ulah sekelompok orang berkepentingan untuk mengadudomba perusahaan PLTA dan petani sekitar. Namun, Poso Energy selalu mengedepankan prinsip menjaga kesimbangan lingkungan hidup melalui program yakni penanaman pohon dan membuat fish ladder pada bendungan, sehingga ekosistem mahkluk hidup di air seperti ikan Sugili tetap terjaga. Juga Garda Terdepan menjaga Pasokan Air di Danau Poso.
Di sisi lain, sumber energi utama PLTA adalah air dan jika terjadi perubahan iklim dapat mempengaruhi siklus air seperti berkurangnya curah hujan hingga kekeringan seperti yang terjadi saat ini Elnino yang berkepanjangan. Bila debit air berkurang karena perubahan iklim, maka akan berdampak pula terhadap kinerja PLTA.

Ditengah badai Elnino, apakah pembangkit listrik yang ada di Sulteng seperti PLTD dan PLTU seharusnya menjadi penopang kelistrikan di Sulteng selama Elnino? memang daya terpasang tidak sebesar PLTA Poso Energy, minimal ada sinergitas antara produsen dan distributor listrik, sehingga dalam menghadapi badai Elnino seperti ini, konsumen/masyarakat teredukasi bahwa supply listrik juga masih berpengaruh terhadap kondisi iklim dan masih ada sumber listrik yang lain meski tidak sebesar PLTA dan membutuhkan biaya operasional yang lebih besar karena perlu konsumsi bahan bakar.

Mengutip pepatah kuno, gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, gara-gara Elnino, Pemadaman bergilir lagi dan PLTA Poso Energy penyebabnya. Semoga kita lebih bijak memahami siatuasi seperti ini, kalau listrik tidak mencukupi sebaiknya kita lebih bijak dalam menggunakan listrik di rumah dan dimulai dengan hal yang sederhana seperti mematikan lampu pada pagi, siang hari, mencuci pakaian di pagi hari, membuka ventilasi rumah sehingga rumah lebih terang dan ada sirkulasi udara.

Salah seorang warga Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Martina (60) mengatakan, kehadiran Poso Energy memberikan kontribusi untuk Indonesia, khususnya warga Poso Pesisir. Aliran Danau Poso memang sangat bermanfaat untuk manusia juga dapat dibangkitkan menjadi listrik. “Dulu, saya masih ba cuci pakai tangan, karena so ada Poso Energi jadi so stabil listrik jadi bisa ba cuci pakai mesin supaya so te repot ba jaga cucu, kasiang,” ucapnya.

Sama halnya dengan Jef (34) warga kota saat ditemui keluar dari toko alat listrik di Jalan Dewi Sartika, Kota Palu mengaku, dirinya sudah membeli lampu emergency dan lampu solar cell yang berdaya 100 Watt dipakai sebagai alternatif penerangan jika terkena giliran pemadaman di malam hari. “Mataharinya torang di Palu kan panas, jadi torang pasang jo lampu solar cell supaya kalau malam so menyala sendiri, jadi halaman terang biar so kena mati lampu,” kata Jef.

Jef pun berpesan, jika Pemerintah Sulteng dan PLN dapat mengkaji prospek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sulteng.*