SULTENG RAYA-Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) bekerja sama dengan Article 33 Indonesia menyelenggarakan Forum on Education and Learning Transformation (FELT) Indonesia 2023 pada 27 sampai dengan 28 November 2023 di Sheraton Grand, Jakarta.

Sebagaimana tema FELT Indonesia 2023 yang bertajuk “Transformasi untuk Pemerataan Kualitas Pendidikan”, diharapkan forum ini akan menjadi wadah di mana para peneliti, akademisi, pakar pendidikan, dan dapat mengeksplorasi dan saling berbagi terkait transformasi pendidikan yang merata.

“Kami merancang FELT ini untuk mengawal keberlanjutan transformasi pendidikan. Untuk itu kami berharap, dari Bappenas dapat ikut mengawal proses ini sesuai dengan prinsip-prinsip transformasi yang sifatnya sistemik, fokus pada kualitas, dan mengatasi kesenjangan,” ucap Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Irsyad Zamjani, di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Agenda FELT 2023 hari kedua diisi dengan sesi pemaparan dari narasumber terkait transformasi pendidikan dan diskusi panel mengenai hasil penelitian para peserta.

Dalam paparan materi terkait Transformasi Pendidikan Menghadapi Tantangan Abad 21, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas RI, Amich Alhumami, menerangkan tentang kaitan antara transformasi pendidikan dan bagaimana pemetaan pendidikan dalam kerangka besar pembangunan Indonesia untuk tahun 2025-2045.

“Merujuk pada Visi Indonesia 2045 disebutkan bahwa ekonomi maju dan kuat ditopang oleh taraf pendidikan penduduk yang baik, status kesehatan dan gizi yang bagus, dan penguasaan iptek dan inovasi. Hal ini berimplikasi pada apakah sistem pendidikan kita sudah cukup memadai, adaptif, dan responsif terhadap dinamika domestik dan global,” tutur Amich.

Berikut adalah beberapa presentasi hasil penelitian para peserta FELT 2023.

Salah satu peneliti FELT 2023, yang juga meraih predikat Best Presenter, Eka Hermansyah, dari Universitas Islam Internasional Indonesia, memaparkan penelitiannya terkait Keterlibatan Siswa dalam Pengambilan Keputusan Kebijakan Sekolah.

Dijelaskan oleh Eka, bahwa dalam konteks pendidikan, anak-anak harus dianggap sebagai individu yang independen dengan pandangan berharga. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan. Untuk itu, diperlukan pengetahuan, dedikasi, dan evaluasi yang efektif untuk mempromosikan partisipasi yang bermakna.

Hery Yanto The, peneliti dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, mempresentasikan hasil penelitian yang bertajuk Pembelajaran Berbasis Tugas dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi: Studi Kasus pada Kelas Desain Pembelajaran. Berdasarkan penelitiannya, menurut Hery, pendekatan pembelajaran berbasis tugas sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman model desain instruksional. Pengerjaan tugas menjadi hal yang esensial untuk memverifikasi apakah mereka tahu cara mendesain dan memahami suatu konsep.

Kemudian peneliti lainnya, Harwan Dharma Aji Manggala, membawakan hasil penelitiannya yang berjudul Digugu Lan Ditiru: Normalisasi Perilaku Guru untuk Terbuka Terhadap Perubahan. Dari penelitian yang dilakukan, Harwan menyampaikan perlunya pelatihan dan pendampingan dalam Program Sekolah Penggerak untuk memberikan pengetahuan baru bagi kepala sekolah terutama pada aspek penguatan kualitas pembelajaran dan pengelolaan sekolah. Dengan itu, kepala sekolah dapat mendorong para guru untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan mengoreksi praktik-praktik pembelajaran yang dianggap tidak tepat. *ENG