SULTENG RAYA-Pelaksanaan magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Universitas Muhammadiyah () telah berjalan dengan baik, hanya saja masih bersifat fleksibel.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik Unismuh Palu, Sudirman, S.KM., M.Kes. Katanya, bersifat fleksibel karena tergantung dengan kebutuhan mitra dan peminatan mahasiswa, dan itu tidak bisa dipaksakan.

Termasuk pengakuan SKS juga masih bervariasi, ada yang 20 SKS, 11 SKS, 9 SKS, dan bahkan ada yang hanya 4 SKS. Baru-baru ini sebut Sudirman, hanya PT Pengadaian yang menyediakan waktu satu semester untuk penempatan magang mahasiswa dan itu pengakuannya 20 SKS. 

“Jadi tergantung mitra kerjasama kita yang bisa dikerjasamakan dan pengakuan SKSnya mahasiswa, pada prinsipnya sudah jalan semua, namun belum seperti yang dilakukan oleh PT Pengadaian, karena itu betul-betul sampai enam bulan dan 20 SKS,”sebut Sudirman.

Tidak kalah penting katanya adalah peminatan mahasiswa, karena pada prinsipnya prodi dan universitas hanyalah fasilitator, hanya sekadar memfasilitasi mahasiswa dengan cara membangun kemitraan dengan lembaga di luar kampus, tinggal mahasiswa apakah berminat magang atau tidak. Mengingat sifat kurikulum ini sifatnya memerdekakan mahasiswa dalam mengambil pilihan.

“Seperti beberapa hari kemarin, ada satu mahasiswa kita dari Fakultas Hukum yang magang di salah satu group perusahaan Bakrie, itu pengakuan 20 SKS, artinya mahasiswanya punya inisiatif dan kemerdekaan mengambil pilihan,”jelas Sudirman.

Kata Sudirman, perlu dipahami bahwa kurikulum MBKM ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman. Link and match tidak saja dengan dunia industri dan dunia kerja tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat.

Sehingga Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan.

Karena itu Kurikulum MBKM diharapkan dapat menjadi jawaban atas tuntutan tersebut. Kampus Merdeka merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Berbagai bentuk kegiatan belajar di luar perguruan tinggi, di antaranya melakukan magang/ praktik kerja di Industri atau tempat kerja lainnya, melaksanakan proyek pengabdian kepada masyarakat di desa, mengajar di satuan pendidikan, mengikuti pertukaran mahasiswa, melakukan penelitian, melakukan kegiatan kewirausahaan, membuat studi/ proyek independen, dan mengikuti program kemanusisaan.

Namun sebut Sudirman, semua kegiatan tersebut harus dilaksanakan dengan bimbingan dari dosen. Kampus merdeka diharapkan dapat memberikan pengalaman kontekstual lapangan yang akan meningkatkan kompetensi mahasiswa secara utuh, siap kerja, atau menciptakan lapangan kerja baru. ENG