RAYA – Wali , , menghadiri kegiatan Family Development Session (FDS) Ekslusif di Hunian Tetap (Huntap) I Kelurahan Tondo, Kamis (20/7/2023).

Kegiatan diselenggarakan SDM Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Mantikulore itu, sebagai aksi bersama Cegah di Kota .

Wali Kota Hadianto Raysid, mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, menyiapkan dua skema untuk penanganan stunting. Pertama, pencegahan risiko stunting dan kedua adalah penanganan risiko stunting.

“Kalau mencegah berarti Bumil (Ibu Hamil, red) kita harus kita jaga dan kawin dini juga harus kita pantau dan perlu diberikan pendampingan. Terutama mereka dari keluarga yang ekonominya berada pada posisi yang tidak baik. Itu yang perlu mendapatkan perhatian agar pencegahan risiko Stunting bisa berjalan dengan baik,” kata Wali Kota Hadianto.

Sebagai tambahan, FDS Eksklusif diperuntukkan pada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH Komponen Kesehatan Bumil, Nifas dan Balita di Kecamatan Mantikulore.

Gelombang pertama, FDS Ekslusif menyasar KPM Layana Indah, Tondo, Talise, dan Talise Valangguni.

Sedangkan gelombang kedua, kegiatan tersebut dilaksanakan pada 26 Juli 2023 dengan menyasar KPM Lasoani, Tanamodindi, Poboya, dan Kawatuna.

Pada kegiatan tersebut, juga dilaksanakan pelayanan pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA) bagi balita belum ter-cover di Kartu Keluarga. Kemudian, pelayanan posyandu dan pemberian tablet penambah darah pemberian nutrisi, makanan, dan susu, serta pembuatan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas (BPKS).

GENCARKAN PROGRAM PALU MAHESA

Terpisah, Koordinator Sub Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, Arli Oriesta, mengatakan, sejumlah program terus digencarkan dalam rangka penanganan stunting di daerah tersebut.

Salah satunya, kata dia, melalui inovasi program Palu Mahesa.

“Palu Mahesa ini merupakan paket stimulus pencegahan stunting yang diberikan pada 1.000 hari pertama kehidupan, yang programnya sudah dimulai tahun lalu,” kata Arli Oriesta.

Ia mengatakan, intervensi tersebut dilakukan dengan memberikan paket makanan kepada baduta (anak usia di bawah dua tahun atau sekitar 0-23 bulan), ibu hamil yang mengalami anemia, dan ibu menyusui yang memiliki bayi berat badan lahir rendah (BBLR). 

Ia menjelaskan selama periode waktu tiga bulan pihaknya memberikan paket bahan makanan, seperti makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan suplemen. 

Selain itu, kata dia, bentuk intervensi lain yang dilakukan, yakni inovasi Nosia Lapale yang melibatkan semua sektor atau pemangku kepentingan terlibat dalam percepatan penurunan stunting. 

Salah satunya, kata dia, Dinkes Kota Palu bekerja sama dengan Perum untuk memberikan terfortifikasi yang memiliki tambahan vitamin selama enam bulan guna mencegah stunting. 

“Tahun lalu diberikan kepada 146 baduta stunting, ibu hamil anemia 28, ibu dengan BBLR 35. Untuk tahun ini, ada 144 dari 26 kelurahan yang kami berikan, yakni ada 110 baduta, 17 ibu hamil anemia, 17 ibu yang menyusui,” katanya. 

Menurut dia, dengan mengomsumsi beras terfortifikasi akan sangat membantu pemulihan percepatan untuk perbaikan gizi mereka. 

Ia juga mengemukakan bahwa percepatan penurunan stunting tidak bisa dilakukan sendiri, dan dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. 

“Kami juga bekerja sama dengan puskesmas, kader posyandu, dan tim kesehatan keluarga (PKK),” katanya. 

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023, angka prevalensi stunting Kota Palu 24,7 persen dari tahun sebelumnya 23,9 persen atau meningkat 0,8 persen. 

Lalu data e-PPBGM, prevalensi stunting di daerah ini turun sekitar 1,8 persen dari 7,85 menjadi 6,19 dari 90 persen hasil penilaian terhadap balita, ibu hamil, dan komponen lainnya. 

Data e-PPBGM juga menunjukkan, 1.221 balita di daerah ini terkena stunting dari 22.400 lebih balita di Kota Palu.ANT/HGA