Indonesia berhasil meraih prestasi membanggakan di ajang Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) ke-53 di Tokyo, Jepang. Sebanyak lima siswa berhasil meraih dua medali perak, satu perunggu, dan dua Honourable Mentions.

Lima siswa yang menorehkan prestasi di ajang IPhO yaitu Savero Lukianto Chandra (SMA Fransiskus Kota Bandar Lampung) dan Fansen Candra  Funata (SMA Darma Yudha Pekanbaru) meraih medali perak. Medali perunggu diraih oleh Muhammad Arif Khalfani Ismail (SMA Fatih Bilingual School Banda Aceh). Sedangkan Honourable Mentions diraih oleh Muhammad Zaidan Naja (MAN 2 Kota Malang) dan Ahmad Nafi Ramadhan (SMA Al Kahfi Kabupaten Bogor).

“Keberhasilan mereka meraih dua perak, satu perunggu, dan dua Honourable Mentions merupakan suatu kebanggaan untuk Indonesia. Ada siswa asal Pekanbaru yang meraih medali perak. Ini luar biasa sekali dan menjadi suatu pembangkit untuk daerah lainnya. Juga ada siswa dari Banda Aceh meraih perunggu, dan merupakan siswa pertama Banda Aceh yang pernah meraih medali di IPhO ini,”  tutur Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hendarman, saat menyambut kedatangan tim dari Jepang, Selasa (18/7/2023).

Lebih lanjut, Hendarman berharap agar pada ajang talenta internasional lainnya Indonesia bisa meraih prestasi lebih baik lagi. “Harapannya mudah-mudahan bisa lebih baik lagi dan bisa mendapatkan emas pada ajang internasional lainnya. Puspresnas juga akan mengadakan evaluasi agar kedepannya lebih baik lagi dan tentunya kami berharap agar lebih banyak medali yang diperoleh dan dari daerah yang beragam,” katanya.

Para siswa di ajang IPhO turut didampingi oleh Tim Pembina yaitu Syamsu Rosid dari Universitas Indonesia (FMIPA ); Rinto Anugraha NQZ dari Universitas Gadjah Mada (UGM); dan Bobby Eka Gunara dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Syamsu Rosid, selaku Pembina IPhO mengungkapkan bahwa pelaksanaan IPhO kali ini berjalan lancar dan kondusif sehingga peserta dari seluruh dunia dapat berkumpul setelah berpisah selama tiga tahun akibat pandemi -19.  “Pada pelaksanaan, alhamdulillah anak-anak kita jauh lebih baik di Tes Teori. Kami atas nama Tim Indonesia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemendikbudristek dan seluruh masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan di IPhO tahun depan di Teheran, Iran kita bisa mempersiapkan anak-anak jauh lebih baik lagi,” ucapnya.

Tim Indonesia di ajang IPhO tahun ini bersaing dengan 394 peserta dari 80 negara. Pada hari Selasa (11/7) Tim Indonesia mengikuti Tes Eksperimen dan pada hari Kamis (13/7) dilanjutkan dengan Tes Teori.

Salah satu siswa peraih medali perak, Savero Lukianto Chandra mengatakan bahwa ajang IPhO tahun ini berjalan dengan sangat kompetitif. “Saya mendapatkan pengalaman yang bisa bertemu dengan peserta dari berbagai negara,” ujar Savero.

Lebih lanjut, Savero mengungkapkan bahwa medali perak yang ia raih bukan hanya dari kerja keras dirinya semata-mata saja, tetapi juga dari para pembina. “Saya berharap melalui prestasi di IPhO ini bisa membawa saya ke masa depan yang lebih cemerlang, ” pungkasnya.

Sebagai , IPhO merupakan kompetisi bergengsi tahunan bagi pelajar seluruh dunia yang berbakat di bidang fisika. IPhO ke-53 diselenggarakan secara luring pada 10-17 Juli dengan tuan rumah Tokyo, Jepang. Setelah tiga tahun berturut-turut dengan pelaksanaan secara daring, pada akhirnya IPhO dapat diadakan secara luring pada tahun ini.*ENG