Oleh:  Muhd Nur SANGADJI

(Akademisi Universitas Tadulako)

Membuang satu butir nasi saja, orang Indonesia telah menghilangkan sejumlah uang yang sangat besar setiap  tahunnya. Angkanya fantastis. Diperoleh dengan hitungan sederhana sekali.  1 butir nasi  dikali  3 per hari, dikali 360 hari, dikali  270 an juta.  Angka totalnya dibagi 500 butir per piring dikali 10.000 ribu perpiring. Angkanya pasti di luar dugaan. Saya menemukan kurang lebih 1,5 Triliun rupiah. Itu hanya untuk 1 butiran nasi yang kita buang. Faktanya, pasti lebih dari satu butir nasi.

Tidak percaya. Ini bukti gambarnya (lihat foto dalam artikel ini). tanggal 9 April 2023, saya mengambilnya di restoran sebuah hotel mewah di . Ternyata, betapa borosnya perilaku kita dalam hal konsumsi. Bayangkan, memproduksi padi dengan susah payah. Hasilnya kita sia-siakan di meja makan.

Kita boleh bilang, itu hak azasi setiap individu karena toch,  setiap kita  telah membeli dan membayarnya. Apakah benar logika ini ? Mari kita simak sejumlah kejadian di belahan bumi yang lain

Pernahkah mendengar cerita memalukan yang menimpa orang Indonesia di Jerman..?

Kala itu, satu rombongan orang kita sedang makan di restoran. Sehabis makan, beberapa dari mereka menyisahkan banyak sekali makanan di piring. Pemilik restoran persilahkan untuk dibungkus bawa pulang. Orang kita bilang, tidak perlu karena kami tidak membutuhkannya.

Karena terjadi ketegangan akhirnya datang menegur. Dengan semangat membela hak, orang kita ini memprotes keras. Mereka bilang, tentu dengan sedikit marah karena merasa sangat benar (orang di timur bilang, baku malawang mati). “Semua makanan ini sudah kami bayar. Mau kami Bungkus bawa pulang (take away) atau tidak. Itu urusan kami”.

Polisi itu lalu menunjukkan pasal regulasi yang berlaku di negeri itu. Polisi itu menasehati dengan sopan tapi tegas. “Uang itu milik anda, tapi sumber daya alam adalah hak semua orang. Maka gunakanlah dengan bijaksana”.  Mungkin, hanya mereka yang tidak punya nurani yang tidak tersentuh dengan ungkapan polisi ini.

Woooow, saya terperanjat mendapatkan cerita ini. Mengapa..? Bukankah itu adalah ajaran mulianya orang orang beragama ? Tentang dosa mubazir ?

Mengapa bukan kita yang memberikan contoh ? Saya pikir pendidikan sejak dini harus ikut mengurus soal yang satu ini. Dari sana, kita mulai produksi ganerasi yang beradab dan  tidak mubazir.

Secara pribadi, saat ini saya selalu membiasakan diri  untuk membungkus makanan sisa. Terkadang, sisa-sisa makanan ini  diberikan kepada kucing.  Kata kawan, siapa tahu kucing bisa menolong kita di akhirat. Patokan analoginya masuk akal. Seorang pelacur yang beri minum anjing yang keahausan saja masuk surga. Padahal, itu dilakukan hanya sekali. Kita,  mungkin telah memberikan makan kucing berulang kali. Semoga berhak mendapatkan ganjaran surga yang sama.

Rasulullah bertitah dalam sabdanya. “Akhirutaam barokah”. Makanan yang terakhir itu memiliki barokah”. Hadist ini dituturkan oleh sahabat karib saya, Dr Hilal Malarangan. Lalu, saya hafal hingga kini.

Jadi saya pikir,  barisan kelompok pembungkus alias kolombus yang biasa dijadikan lelucon itu,   ada benarnya. Mereka justru  mempraktekkan apa yang menjadi regulasi di beberapa negara maju di Eropa. Dan, saya telah lama menjadi bagian dari kelompok ini untuk kucing liar di sekitar rumah. Semogalah bernilai ibadah. Amin yaa Rabb. ***