RAYA — Peningkatan inklusifitas di dunia pendidikan tinggi menjadi salah satu katalis penting dalam memajukan dan mewujudkan aspirasi pendidikan berkualitas untuk semua. Hal tersebut dibuktikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia () melalui lulusannya.
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan , Arief Wibisono Lubis mengatakan penguatan inklusifitas di lingkungan kampusnya berangkat dari tagline Inclusive, Relevant and Reputable yang diusung pihaknya sejak kepemimpinan Dekan FEB UI Teguh Dartanto.
“Sebenarnya inklusifitas di FEB UI sudah digagas sejak lama tapi semakin ditekankan melalui tagline tersebut. Dengan mengacu pada hal tersebut, bagaimana FEB UI menciptakan pemimpin masa depan yang Inclusive, Relevant and Reputable yang memang terintegrasi dalam strategi dan kegiatan yang ada di FEB UI. Itu merupakan salah satu karakteristik dari SDM yang ingin kita hasilkan untuk menuju dan merawat kemajuan bangsa dan negara Indonesia,” katanya, Senin (18/9/2023).
Menurutnya, FEB UI saat ini tengah menyusun rencana strategis yang akan menjadi salah satu dasar dalam peningkatan pendidikan yang inklusif. Selain itu, melalui rencana strategis tersebut FEB UI juga ingin menciptakan pemimpin masa depan yang memiliki global awareness dan juga beretika.
Arief pun mencontohkan, sebelumnya penerapan inklusifitas di FEB diwujudkan dalam beberapa program penerimaan dan kegiatan lainnya di lingkungan kampus. Adapun saat ini FEB UI akan menambah fasilitas yang mengakomodir kebutuhan mahasiswa difabel.
“Sejak beberapa tahun terakhir, fasilitasnya memang sudah disiapkan. Kami juga mengadakan beberapa renovasi di beberapa fasilitas. Tujuannya mengakomodir aksesibilitas bagi mahasiswa difabel. Dan juga, sebelumnya kami sudah menerima beberapa mahasiswa difabel. Kami fasilitasi mulai dari penerimaan hingga yang bersangkutan bisa lulus tepat waktu. Kami juga berterima kasih kepada dosen-dosen kami yang sudah membantu melalui inovasi pengajaran. Sehingga yang bersangkutan bisa lulus dengan lancar,” ujarnya.
Selain itu, FEB UI pun berupaya mengakomodir mahasiswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Yaitu dengan memfasilitasi beberapa jalur penerimaan bagi calon mahasiswa termasuk dari daerah 3T.
Ketika sudah diterima, mahasiswa-mahasiswa tersebut difasilitasi oleh unit khusus yang bernama Student Wellness Center. Di mana salah satu fungsinya untuk membantu mahasiswa beradaptasi ketika berkuliah di FEB UI karena jarak yang cukup jauh dari keluarga dan budaya berbeda serta wadah kepedulian FEB UI terhadap isu-isu kesehatan mental yang dihadapi mahasiswa.
“Banyak dari mahasiswa kami yang harus masuk FEB UI dengan berbagai macam perjuangan dan begitu dia masuk, dia membutuhkan berbagai macam dukungan, itu kami bantu. Salah satunya adalah dengan Student Wellness Center dan juga tentunya peran penting dari pembimbing,” lanjutnya.

MAMBANTU PERJUANGAN
Adalah Ardian, mahasiswa S-1 yang mengambil Program Studi Manajemen dan merasa terbantu dengan konsep inklusifitas di FEB UI. Ardian menuturkan, sejatinya dia terlahir normal. Namun, kecelakaan saat persalinan membuat syaraf tangan kanan Ardian lemah dan tidak berkembang. Dengan keterbatasannya membuat Ardian lebih lambat dalam melakukan beberapa aktivitas termasuk belajar, menulis, dan mengetik. Meski demikian, Ardian tak pernah patah arang dan selalu berusaha .
“Makanya, sejak kecil aku bertekad menempuh pendidikan di sekolah umum. Sejalan dengan komitmen FEB UI menyediakan pendidikan inklusif, alhamdulillah saya betul-betul menerima pelayanan dan perlakuan setara dari para dosen ataupun tendiknya. Mereka sepenuh hati memahami kondisi setiap mahasiswanya. Begitu juga teman teman yang tidak pernah diskriminatif,” ujarnya.
Dia mengakui, di FEB UI, Ardian menemukan rumah ternyaman. Dia pun yakin, kesempatan ini terbuka bagi seluruh anak bangsa. Menurutnya FEB UI sangat memerhatikan setiap akses bagi penyandang difabel untuk mengenyam pendidikan .
Hal serupa dirasakan Rizky yang merupakan mahasiswa S-2 program studi Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan (MPKP). Rizky adalah salah satu mahasiswa yang berasal dari timur Indonesia yaitu Pulau Buru, Maluku.
Dia mengatakan, bagi dirinya dan mayoritas pelajar di daerahnya, bisa merasakan pendidikan terbaik di negeri ini dengan tenaga pendidik, kurikulum, dan fasilitas mumpuni merupakan impian besar. Bahkan, impian para orang tua juga. Impian itu, kata dia, sepintas terlihat sederhana, tapi terbilang sulit untuk digapai. Pasalnya, dia merasakan betapa besarnya jurang pendidikan di Indonesia Timur.
“Pada masa sekolah dasar kami hanya memiliki 1 guru bahasa Inggris untuk 3 sekolah. Sementara itu, di waktu bersamaan, sudah banyak sekolah bertaraf internasional di bagian barat Indonesia. Perbedaan pendidikan itu seolah sangat terasa sebagai sesuatu yang menentukan mutu dan kualitas individu. Oleh karena itu, banyak di antara kami berlomba-lomba untuk bisa melanjutkan pendidikan meski rela jauh dari kampung,” katanya.
Rizky bersyukur melalui itu semua dan bisa mengenyam pendidikan di FEB UI. Dia pun memiliki cita-cita mulia, ingin mengajak generasi muda bersama-sama membangun dunia pendidikan yang lebih baik, adil, dan merata, untuk saudara sebangsa di seluruh Indonesia.
“Mari kita buka kesempatan bagi mereka untuk melangkah lebih jauh demi kehidupan yang lebih baik,” tuturnya. */RHT