RAYA – Bagi Budi Utomo, usaha rakyat () berperan penting untuk keberlangsungan usaha es podeng dan roti bakar miliknya yang sudah ia jalankan selama 17 tahun.

Bagaimana tidak, usahanya yang beralamat di Blok S, Jakarta itu nyaris mengalami kebangkrutan setelah terseok-seok saat Indonesia dilanda pandemi -19.

Sejatinya, jatuh bangun menjalankan usahanya sudah biasa bagi Budi. Namun, hantaman ‘dahsyat' baru dialami Budi saat wabah Covid-19 dan Jakarta menerapkan Pembatasan Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

“Masa PSBB dan PPKM level 4 itu paling berat. Kedai harus tutup, pembeli tidak boleh makan di tempat, jalan ditutup,” cerita Budi, seperti dilansir dari Detik.com.

Katanya periode terberat itu berjalan sekira empat bulan, dimana pesta dan acara berkumpul dilarang sehingga usahanya tidak dapat pesanan. Banyak pula kawan penjual es podeng yang memilih alih pekerjaan. Ada pula yang memilih pulang kampung dan menyerah.

“Saya tetap bertahan, meskipun berat. Saat itu, omset bukan turun lagi, tetapi nyungsep. Ada perbaikan setelah dilonggarkan. Jualan online mulai jalan lagi, mulai ada pemasukan lagi,” tuturnya.

Usaha Es Podeng dan Roti Bakar Pandawa itu sudah berumur 17 tahun. Pendirinya kakak kandung Budi, Suyono Anugrah. Bermula dari usaha roti bakar pada 1996, saat Blok S belum seramai saat ini dan bahkan, dari kisah yang diterima Budi, kawasan itu masih merupakan area rawa, kemudian Suyono menambahkan es podeng sebagai menu utama lainnya pada 2005.

Setelah Suyono pindah ke Serang bersama istrinya pada tahun 2000, usaha itu diteruskan oleh Budi, yang sudah membantunya di kedai yang ada di Blok S. Es podeng itu bukan santapan asing bagi Suyono dan Budi. Mereka tinggal di Kebalen, Kuningan, Jakarta Selatan yang merupakan sentra pembuat es podeng.

Setelah pandemi mereda, Budi mulai bertekad untuk mengembalikan usahanya seperti sebelum wabah. Tetapi, di saat itu, modalnya kadung tergerus.

Salah satu jalan dia mencari pinjaman. Budi ingat BRI pernah menawari KUR sebelumnya, tetapi karena belum membutuhkan dia menolaknya. Dia pun menghubungi kembali pegawai BRI itu dan mengajukan KUR BRI pada 2022. Oleh BRI, disetujui KUR sebesar 80 juta dengan kewajiban menyelesaikannya dalam tempo tiga tahun.

Bagi Budi, ini menjadi pengalaman pertamanya berurusan langsung dengan bank. Sebelumnya, Suyono-lah yang mengurus administrasi dengan bank.

“Prosesnya tidak sulit. Hanya perlu memiliki rekening BRI, tidak sedang menerima kredit dari bank lain, dan ada syarat administrasi lainnya, seperti , NPWP dan izin usaha,” kata Budi.

Bagi Budi memiliki KUR tidak melulu soal kewajiban membayar pengembalian per bulan. Justru dia menjadikannya sebagai penyemangat agar penjualannya naik terus setiap hari. Dengan mempunyai KUR BRI, Budi berkesempatan mengikuti bazar yang digelar oleh BRI.

“Saya jadi memiliki pengalaman ikut bazar dari BRI dan menurut pengalaman yang lain di bazar BRI dagangan mereka selalu laris. Dari cerita mereka, asyiknya lagi, bazar tidak hanya di Jakarta tetapi juga bisa di luar Jakarta. Nah, ini menjadi tantangan saya untuk bisa menyiapkan es podeng di kota lain sebab selama ini saya hanya mampu memproduksi es di rumah,” dia menjelaskan.

Dengan suntikan dana itu, Budi bisa kembali menggenjot produksi. Kini, kiosnya di Bloks S kembali ramai. Dia juga memiliki jadwal rutin untuk acara di dua instansi berbeda setiap minggu.

“Belakangan sudah mulai ramai. Bahkan, di beberapa momen, pesanan bisa melebihi sebelum pandemi. Justru online yang tidak sebanyak dulu lagi. Saya berharap yang online juga kembali ramai, banyak lagi acara bazar dan kantor, jadi pesanan makin banyak,” kata dia. RHT/DTC