SULTENG RAYA — PT Bank Syariah Indonesia Tbk () dinilai punya ceruk pasar tersendiri dengan karakter nasabah loyal sehingga tak akan lari atau beramai-ramai menarik dananya, kendati ada indikasi serangan siber terhadap bank syariah terbesar di Indonesia tersebut.

Hal itu diungkapkan Nailul Huda, peneliti ekonomi dari Institute for Development and Economics and Finance (Indef). Huda menjelaskan, BSI sebagai hasil penggabungan tiga bank syariah anak usaha dari tiga bank , memiliki pasar yang sangat loyal dengan landasan spiritual.

“Dulu perusahaan awal BSI dari tiga bank syariah milik bank-bank Himbara punya niche market. Di mana masyarakat yang tidak mau ke bank konvensional larinya ke bank syariah ini. Karena itu pasti nasabahnya gak akan lari karena mereka berhubungan sama keyakinan sebenarnya. Jadi pasti masih loyal nasabahnya,” katanya, Jumat (19/5/2023).

Analisa dari Huda tercermin pada Rini, seorang nasabah BSI di Bogor, Jawa Barat. Rini telah menjadi nasabah Bank Syariah sejak 2004. Bahkan Rini mengakui dia adalah ‘nasabah psikologis', yang sudah punya ‘ikatan batin' dengan BSI.

“Saya memang nasabah psikologis. Jadi gak terpengaruh. Istilahnya saya sudah punya ikatan batin dengan BSI. Jadi masih percaya insyaAllah,” kata Rina ketika ditemui usai tarik tunai di ATM BSI KC Tanah Sereal, Jl Sholeh Iskandar, Bogor, Sabtu lalu (13/5/2023).

Rini bahkan mengaku tak terlalu terpengaruh dengan berita-berita yang ramai beredar terkait dugaan serangan siber terhadap BSI.

“Saya tidak mengikuti dan tidak mau peduli, karena saya punya urusan yang lebih penting daripada ngurusi hoaks itu,” tegas Rini.

Sementara itu, Huda melanjutkan, adanya indikasi serangan siber pun, tidak akan menurunkan pamor BSI ke depan. Pasalnya, BSI hadir sebagai salah satu bank besar di Tanah Air dan didaulat untuk menjadi lokomotif ekonomi syariah di Indonesia sehingga bisa bersaing di tingkat internasional.

Huda menegaskan, indikasi serangan siber tersebut dinilainya tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kinerja BSI maupun trust dari nasabah secara jangka panjang. Terlebih, menurutnya BSI terkait dengan bank-bank BUMN dengan reputasi yang terjaga.

“Nasabah tidak akan meninggalkan BSI, karena bank besar dan ketika masyarakat memilih bank syariah larinya ke bank BUMN syariah. Ini adanya di BSI. Karena nama BUMN ini bisa dibilang bisa menjadi jaminan bagi masyarakat,” lanjut Huda.

Bahkan kata dia, ke depan BSI diyakini akan terus bertumbuh. Hal ini tak terlepas dari tren perbankan syariah yang kian positif. Adapun saat ini penetrasi perbankan syariah masih rendah yaitu di bawah 10%. Sedangkan pemerintah mematok target tingkat penetrasi perbankan syariah Indonesia mencapai 15 persen dalam kurun 5-10 tahun ke depan.

Di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di mana sekitar 231 juta penduduknya menganut agama Islam. Sedangkan menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,77 juta pada 2022 lalu.

“Potensi kita masih tinggi sebagai penduduk muslim terbesar dan masih memunculkan peluang di situ. Masalah yang dihadapi BSI saat ini tidak akan mengganggu tren perbankan syariah secara total. Pasti masyarakat percaya BSI bisa segera keluar dari masalah ini, karena BUMN dan aspirasi besarnya. Tapi tentunya masyarakat dan semua pihak ingin hal ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” tutupnya.

Sementara itu, seiring yang telah kembali normal, BSI membukukan kenaikan penghimpunan dana pihak ketiga () harian dan volume setoran yang signifikan. Pada Senin 15 Mei 2023, total setoran tunai BSI tercatat Rp637,69 miliar yang berasal dari 30.400 transaksi.

BSI juga telah melayani transaksi MPN (Modul Penerimaan Negara) dan Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara (SPAN) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Selain itu, BSI telah selesai melakukan pelunasan biaya dari 161.455 calon jemaah haji 1444 Hijriah atau 100 persen dari kuota haji yang diberikan kepada perusahaan. RHT