RAYA – Puluhan remaja di Kota mengikuti diklat peningkatan pemahaman konsensus berbangsa dan bernegara yang dilaksanakan oleh Kesbangpol selama tiga hari sejak tanggal 15-17 Mei 2023 di aula Asrama Transit Palu. Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya cipta kondisi jelang .

Kepala Kesbangpol Kota Palu, Ansyar Sutiadi mengatakan, hal tersebut penting dilakukan guna menghadapi tahun-tahun politik seperti saat ini untuk mengantisipasi gesekan di tengah-tengah masyarakat.

Para remaja tersebut, selama tiga hari menerima peningkatan pemahaman konsensus berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, tidak hanya sekadar menghafal dan memahami, melainkan juga dituntun untuk mengaktualisasikan dalam aktivitas mereka.

Seperti halnya dalam dunia politik kata Ansyar, harus bisa menerima perbedaan pilihan politik di tengah-tengah masyarakat, tidak harus menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan hukum dalam mempertahankan dan pemperjuangkan pilihan politik, baik itu wakil di legislatif maupun pemimpin di eksekutif. “Kita berikan pemahaman, bahwa UUD 1945 itu adalah sumber dari segala hukum, NKRI ini harus kita jaga, Kebhinekaan kita harus jaga,” sebutnya.

Begitu juga katanya dalam aktivitas sosial lainnya, -nilai konsensus itu harus diperaktekan. “Di hari kedua, mereka itu diminta untuk memberikan konsep apa yang ingin mereka lakukan sebagaimana nilai-nilai konsensus bernegara itu. Ada yang mengatakan ingin berbagi dengan yang tidak mampu, ingin melakukan sosialisasi hukum, artinya mereka telah memahami dan bisa mereka mengaktualisasikan, inilah yang kita harapkan,” sebut Ansyar.

Hal seperti ini kata Ansyar, perlu dilakukan, jangan sampai para remaja itu menterjemahkan konsensus dengan cara mereka masing-masing, apalagi dengan arus globalisasi dari luar saat ini dengan adanya teknologi begitu mudah masuk. “Kita ingin menguatkan pemahaman mereka, bahwa Pancasila ini digali dari budaya dan agama,” jelasnya.

Di tempat yang sama, salah satu anggota DPRD Kota Palu, Rusman Ramli menambahkan, pembumian nilai-nilai empat konsensus berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika mutlak harus dilakukan. Karena di era globalisasi saat ini tantangan anak-anak muda sangat luar biasa atas pengaruh globalisasi, pangaruh idiologi dari luar  yang dapat mengikis pemahaman konsensus bernegara itu.

Saat ini sebut Rusman, bisa disaksikan seperti intoleransi, gesekan, perpecahan, kerusuhan mudah terjadi di seluruh pelosok tanah air. Hal itu terjadi akibat terjadinya pengikisan pemahaman konsesus bernegara. “Nah oleh karenanya apa yang ditawarkan oleh Kesbangpol Kota Palu penting direspon secara bersama-sama,” sebutnya.

Kegiatan ini sebut Rusman, juga menggandeng Kota Palu, mengingat narkoba adalah salah satu ancaman yang sangat berbahaya di negeri ini dan Kota Palu khususnya. Memerlukan sosialisasi dan penanaman pemahaman yang lebih masih kepada remaja agar bisa menjadi agen perubahan dalam proses memproteksi segala hal yang kemudian yang berpotensi mengancam konsesnsus berbangsa dan bernegara.

“Tentu harapannya, kita menginginkan wujud dari pemahaman konsensus berbangsa dan bernegara ini, maka persatuan dan kebersamaan, upaya memahami bahwa perbedaan suku, budaya dan perbedaan agama itu adalah sebuah keniscayaan, suatu hal yang tidak bisa kita menafikan, tetapi kebersamaan itu menjadi hal yang paling utama, agar kemudian kita bisa menjadi agen perubahan, dan kepemimpinan akan berada di tangan generasi akan datang,” harapnya. ENG