RAYA  – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Tengah mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas kegiatan talk show Peran Pers dalam Dunia Pendidikan di Era , yang dilaksanakan Yayasan Sukma Bangsa .

Yayasan di bawah nauangan Media Grup tersebut menggelar talk show seputar pers dan pendidikan, sebagai bagian dari peringatan Hari Pers Nasional (HPN).

Sekretaris PWI Provinsi Sulawesi Tengah, Temu Sutrisno, yang hadir sebagai pembicara tamu menyampaikan, kegiatan tersebut sebagai sebuah terobosan baru bagi dunia pendidikan di Sulawesi Tengah.

“HPN di daerah biasanya diperingati masyarakat pers, dan secara khusus diperingati wartawan, asosiasi perusahaan pers, dan asosiasi profesi wartawan. Kegiatan ini luar bisa, dan sepengetahuan saya baru pertama sekolah setingkat SMP dan SMA menggelar talk show pers untuk HPN. Kalau kegiatan lain seperti sudah sering, namun bukan rangkaian HPN. Secara pribadi sebagai  wartawan dan pengurus PWI Sulteng, saya sampaikan terima kasih dan setinggi-tingginya untuk SMP, SMA, dan Yayasan Sukma,” kata Temu Sutrisno, Jumat (24/2/2023).

Di hadapan peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa sekolah di Kabupaten , Temu mengajak dunia pendidikan bersama-sama dengan pers, membangun karakter anak bangsa yang kreatif dan tangguh di era digital.

Di era digital, satu persoalan muncul. Moralitas bangsa makin samar. Kemajuan teknologi bukan hanya membawa dampak positif seperti memudahkan pekerjaan yang rumit, kecepatan informasi, dan jangkauan tanpa batas, namun juga membawa dampak negatif.

“Dampak baiknya kita ambil, dampak negatifnya kita tinggalkan. Apa dampak negatifnya? Kita ambil contoh yang sederhana, cyber bulliying misalnya. Padahal kita bisa memanfaatkan beragam platform media untuk konten positif, tapi ada juga bully, ada hoaks, pornografi, dan ajaran kekerasan. Pers dan dunia pendidikan punya kewajiban yang sama  memncerdaskan bangsa. Kita harus kolaborasi dalam gerakan literasi digital. Kita bisa sama-sama menumbuhkan kreativitas anak-anak dengan konten positif, dan memfilter konten-konten negatif,” ajak Temu.

Prof. Ratno Lukito, Ph.D Guru Besar Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga yang menjadi Dewan Pengawas Yayasan Sukma, pada kesempatan itu menyatakan pers dan dunia pendidikan saling bertaut jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Pers dan pendidikan memiliki tanggung jawab menyadarkan arti penting perjuangan bangsa. Setelah merdeka hingga reformasi 1998, pers dan pendidikan bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tiga fungsi pers sebagai wahana informasi, , dan kontrol sosial selama ini telah berjalan baik seiring jalan dengan dunia pendidikan.*WAN