SULTENG RAYA Yayasan Sahabat Lingkungan Sulawesi Tengah (Sulteng) yang bergerak pada penanganan sampah, mengajak Pemerintah Kota berkolaborasi mengatasi penanganan sampah di Kota Palu.

Ajakan tersebut diutarakan langsung oleh Ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Sulawesi Tengah, Ir. Burhanuddin Andi Masse, M.Kom saat bersilaturahmi dengan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid di ruang kerjanya, belum lama ini.

Katanya, jika kolaborasi tersebut dapat terlaksana, semakin mempercepat terwujudnya Kota Palu sebagai Kota Adipura sebagai mana visi misi Wali Kota Palu.

“Insya Allah, apa yang diinginkan Pak Wali Kota Palu untuk mewujudkan Kota Palu sebagai Kota Adipura semakin cepat terwujud,”sebut Burhanuddin, Senin (20/2/2023).

Saat ini katanya, Kota Tolitoli telah menjadi  pilot project program yayasannya itu, saat ini di Kota Tolitoli telah berdiri Bank Sampah yang dikelola langsung Sekretaris Yayasan Sahabat Lingkungan Sulawesi Tengah, Wiyatmoko dengan jumlah karyawan 300 orang, serta telah memiliki mesin pengolah sampah.

Sampah yang awalnya menjadi musuh dan sumber penyakit di Kota Cengkeh itu kini telah disulap menjadi barang yang bernilai ekonomi dan dihargai Rp5ribu per kilogramnya. Tidak mengherankan katanya jika anak-anak kecil di Tolitoli kini memperebutkan sampah. Karena dengan sampah itu mereka bisa menghasilkan uang jajan, ini dapat mendorong Kota Tolitoli sebagai kota bersih.

“Sebagian anak-anak di sana itu tidak lagi meminta uang jajan sama orang tuanya, karena dengan sampah plastik mereka bisa menghasilkan uang Rp20ribu perhari,”jelas Burhanuddin.

Selain itu, di Tolitoli juga telah ada mesin pengolah sampah yang bisa menghasilkan BBM, dan itu telah dimanfaatkan oleh para nelayan, mereka pulang dari melaut tidak hanya membawa ikan hasil tangkapannya melainkan juga ada diantara mereka membawa sampah yang akan ditukar dengan BBM.

“Ini juga bisa membersihkan laut dari sampah, ini tentu baik untuk lingkungan,”kata Burhanuddin.

Ia berharap, Kota Palu sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah juga bisa melakukan hal yang sama, Pemerintah Kota Palu cukup menyediakan lahan seluas 6000 Meter serta menyediakan mesin pengolah sampah, yang mampu mengolah sampah 60 ton perhari di luar logam dan besi, itu diyakini mampu mengatasi sampah yang menjadi persoalan klasik di kota ini.

Belum lagi, sampah yang diolah itu bisa kembali dimanfaatkan, karena sampah-sampah tersebut diolah menjadi abu batu dan pasir yang bisa digunakan dalam pembangunan infrastruktur jalan.

Belum lagi katanya, di lahan 6000 Meter tersebut juga dapat berdiri taman bermain anak-anak, perpustakan  tentang bank sampah, dan kolam renang.

“Sehingga seakan-akan kita masuk ke sebuah arena permainan, padahal kita masuk di kawasan pengelolaan sampah, hal itu terjadi karena sampah tidak lagi menjijikan karena telah disterilkan dan diolah,”sebut Burhanuddin.

Untuk itu, Ia sangat berharap kepada Pemerintah Kota Palu bisa bersama-sama sahabat lingkungan menjaga Sulawesi Tengah agar tetap bersih dan nyaman dan indah, khususnya Kota Palu.

“Untuk mewujudkan Kota Palu sebagai Kota Adupura butuh kolaborasi, Yayasan Sahabat Lingkungan Sulawesi Tengah siap berkolaborasi mewujudkan itu,”kata Burhanuddin. ENG