RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota , menyebutkan  total fertility rate (TFR)  alias angka kelahiran total pada hasil Sensus Penduduk 2022 lanjutan atau Long Form SP2020 sebesar 2,11.

“Sebelumnya, dalam sensus penduduk 2010, Kota Palu mencatat angka TFR sebesar 2,32 yang berarti seorang melahirkan sekitar 2-3 anak selama masa reproduksinya. Sementara, Long Form SP2020 tercatat TFR sebesar 2,11 berarti hanya sekitar 2 anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksinya,” kata Kepala G A Nasser, Selasa (14/2/2022).

Penurunan fertilitas, kata dia, mengakibatkan proporsi anak-anak dalam populasi ikut menurun, kondisi itu dapat menyebabkan rasio ketergantungan menjadi lebih rendah dan menciptakan bonus demografi.

“Pada tahun 2022, tepat satu dekade bonus demografi Indonesia, tercatat TFR sebesar 2,11. Angka ini, semakin mendekati tingkat replacement level (2,1) artinya setiap wanita digantikan oleh satu anak perempuannya untuk menjaga kelangsungan pergantian generasi,” ucapnya.

Sementara itu, untuk angka kematian penduduk usia dini, yakni selama periode satu dekade bonus demografi yang dialami Kota Palu, berupa Angka Kematian Bayi (AKB) cenderung menurun dari 30 per-1000 kelahiran hidup pada sensus penduduk 2010, menjadi 16,46 per-1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020.

“Karena, perbaikan sarana dan prasarana kesehatan dan meningkatnya kualitas hidup wanita di Kota Palu membuat anak yang baru lahir semakin mampu bertahan hidup,” jelasnya.

ANGKA KELAHIRAN INDONESIA TERUS TURUN DALAM 50 TAHUN

Disadur dari kadadata.co.id, BPS mencatat angka kelahiran di Indonesia terus turun, tercermin dari total fertility rate (TFR) yang turun menjadi 2,18 dari 50 tahun lalu sebesar 5,61.

Benarkah penurun ini seiring makin populernya tren rumah tangga yang enggan memiliki anak alias childfree? TFR 2,18 berarti setiap perempuan melahirkan dua sampai tiga anak selama masa reproduksinya, menurun dibandingkan lima dekade lalu yang antara lima sampai enam anak.

Namun, Ketua Prodi Magister Kependudukan dan Ketenagakerjaan , Diahhadi Setyonaluri, menyebut, penurunan tersebut tidak selalu terkait dengan tren childfree.

“Tapi karena orang mulai sadar jumlah anak yang ideal. Angkanya kan 2,18 artinya rata-rata per perempuan usia produktif punya anak sekitar dua. Bukan childfree tapi punya anak sekitar dua,” kata perempuan yang akrab disapa Ruri itu sata dihubungi lewat panggilan telepon, Senin (13/2/2023).

Ia juga pernah melakukan kajian yang menunjukkan bahwa rumah tangga yang tidak memiliki anak memang naik.

Namun, angkanya  sangat tipis dalam beberapa tahun terakhir. Jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 9 persen dari total rumah tangga Indonesia.

Selain itu, ia melihat ada kemungkinan rencana childfree hanya pandangan yang sifatnya dinamis.

Ia mencontohkan, pasangan muda di bawah 25 tahun yang baru menikah mungkin awalnya berkomitmen untuk tidak memiliki anak, tetapi rencana itu dapat berubah seiring usia yang terus menua dan kehidupan yang makin mapan.

Hal itu senada dengan data BPS yang menunjukan puncak kelahiran dalam beberapa dekade terakhir bergeser ke usia yang lebih tua.

Pada 1971, angka kelahiran tertinggi pada usia 20-24 tahun yang mencapai 286 kelahiran per 1.000 perempuan. Namun pada 2022, puncaknya di usia 25-29 tahun yang mencapai 131 kelahiran per 1.000 perempuan. ULU