SULTENG RAYA– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu menggelar kegiatan kajian Ramadan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Palu dan mengangkat tema “Jihad dalam Konteks Modern: Meluruskan Narasi di Tengah Konflik Timur Tengah.”

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Menteri Agama BEM Universitas Muhammadiyah Palu, BEM FAI, serta sejumlah himpunan mahasiswa di lingkungan Fakultas Agama Islam Unismuh Palu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh mahasiswa yang antusias mengikuti kajian hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Acara diawali dengan pengantar materi oleh Menteri Agama BEM Universitas Muhammadiyah Palu, Reza, yang bertindak sebagai pemantik diskusi. Selanjutnya, materi utama disampaikan oleh Wakil Dekan III FAI Unismuh Palu, Dr. Abd. Mufarik A. Marhum, S.Pd.I., M.Pd, sementara jalannya diskusi dipandu oleh Aisyah Rahma selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Dr. Abd. Mufarik menjelaskan bahwa istilah jihad kerap disalahpahami oleh sebagian masyarakat, terutama ketika dikaitkan dengan konflik di berbagai wilayah dunia, termasuk di Timur Tengah. Menurutnya, secara bahasa kata jihad berasal dari bahasa Arab jahada–yujahidu–jihadan yang berarti bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kemampuan, serta berjuang dengan usaha maksimal.

“Jihad tidak selalu identik dengan perang. Maknanya jauh lebih luas, yakni segala bentuk usaha serius dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran,” jelasnya di hadapan para peserta kajian.

Ia menambahkan, dalam pengertian syariat, para ulama mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan seluruh kemampuan untuk menegakkan agama Allah serta melawan kebatilan. Oleh karena itu, jihad dapat mencakup berbagai bentuk perjuangan, seperti perjuangan spiritual, sosial, intelektual, hingga perjuangan fisik dalam kondisi tertentu.

Dr. Abd. Mufarik juga mengutip pandangan ulama besar, Imam Ibn Taymiyyah, yang menjelaskan bahwa jihad mencakup segala bentuk usaha dalam menegakkan agama, baik dengan hati, lisan, maupun tindakan. Menurutnya, jihad tidak selalu berarti peperangan, melainkan juga usaha menyebarkan kebenaran dan menolak kezaliman.

Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa untuk memahami konflik yang terjadi di Timur Tengah dengan pendekatan yang lebih bijaksana dan tidak terburu-buru dalam memberikan penilaian. “Jika dikaitkan dengan kondisi Timur Tengah saat ini, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam menghakimi. Kita harus lebih teliti dan berhati-hati dalam melihat persoalan yang terjadi,” ujarnya.