SULTENG RAYA – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Palu menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Ketua Umum Indonesian Association for Public Administration (IAPA), Prof. Dr. M.R. Khairul Muluk, S.Sos., M.Si sebagai narasumber utama.

Dalam kegiatan tersebut, Profesor Muluk, sapaan akrabnya, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Eksekutif Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial, Politik, Administrasi, dan Komunikasi (LAMSPAK) membawakan materi bertema “PUMO dan Tantangan Governansi.”

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa PUMO merupakan model konseptual baru yang diperkenalkan pada 2025 untuk menganalisis dinamika dunia yang semakin kompleks.

“Model ini banyak digunakan dalam kajian geopolitik, kebijakan publik, hingga business foresight untuk memahami kondisi global yang semakin ekstrem, terbelah, dan sulit diprediksi,” jelasnya, di Aula Rektorat, Sabtu (7.3/2026).

Menurutnya, konsep PUMO terdiri dari empat karakter utama. Pertama adalah Polarized, yaitu kondisi dunia yang semakin terbelah dalam berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, hingga kehidupan sosial.

“Polarisasi politik yang ekstrem, fragmentasi sosial, fenomena digital tribalism, hingga kesenjangan antara pusat dan daerah menjadi contoh nyata dari situasi tersebut,” jelasnya.

Kedua lanjut dia, adalah Unthinkable, yaitu munculnya berbagai peristiwa yang sebelumnya dianggap mustahil. Contohnya adalah pandemi global seperti COVID-19, konflik berskala besar seperti Perang Rusia–Ukraina, hingga ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

 “Perubahan drastis dalam sistem politik suatu negara dalam waktu singkat, seperti yang terjadi di Nepal, juga menjadi contoh dinamika yang sulit diprediksi,” ujarnya.

Ketiga adalah Metamorphic, yaitu perubahan yang tidak lagi bersifat evolutif, melainkan transformasional. Profesor Muluk menjelaskan bahwa digitalisasi kini berkembang menjadi masyarakat yang didorong oleh kecerdasan buatan.

“Dalam konteks pemerintahan, birokrasi mulai bertransformasi menuju platform governance, sementara sistem rantai pasokan global berubah menjadi sistem multi-hub,” tambahnya.

Karakter keempat lanjut Guru besar Fakultas ilmu administrasi Universitas Brawijaya ini adalah Overheated, yaitu kondisi dunia yang mengalami tekanan berlebih di berbagai sektor.

“Tekanan ekonomi seperti inflasi, kegaduhan politik di ruang sosial, hingga tuntutan kerja organisasi yang semakin kompleks akibat perkembangan teknologi membuat banyak institusi bekerja dalam tekanan sistemik yang tinggi,” tandasnya.

Kuliah umum tersebut diikuti oleh mahasiswa FISIP serta mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Muhammadiyah Palu.

Turut hadir dalam kegiatan yang dipandu langsung Dekan FISIP Dr Muhamad Dasril, S.Sos., M.Si itu, diantaraanya Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah Dr. Novalina, MM, Ketua IAPA Sulteng, Dr. Muh. Irfan Mufti, M.Si, para wakil rektor, para dekan, Direktur Pascasarjana, serta para ketua lembaga di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palu.

Wakil Rektor I Unismuh Palu, Dr. Sudirman, S.KM., M.Kes mewakili Rektor Unismuh Palu Prof. Dr. H. Rajindra SE., MM mengucapkan terimakasih kepada Prof. Muluk yang telah berkenan mengisi kuliah Umum dan berbagi ilmu di kampus Biru Unismuh Palu. “Terimakasih, ditengah kesibukan beliau masih berkenan menyempatkan diri mengisi kuliah umum di Unismuh Palu, dalam hal ini FISIP Unismuh Palu,”ujarnya.

Sementara itu, Dekan FISIP Unismuh Palu, Dr. Muhamad Dasril, M.Si, bahwa kegiatan itu, diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai dinamika global dan tantangan baru dalam tata kelola pemerintahan di era perubahan yang semakin cepat.

“Kami hadirkan mahasiswa FISIP secara keseluruhan dengan harapan melalui ini dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai dinamika global dan tantangan baru dalam tata kelola pemerintahan di era perubahan yang semakin cepa,”ujar dekan. FERY