Oleh : Aslamuddin Lasawedy

(Pemerhati masalah ekonomi, budaya, dan politik)

SIANG itu pukul 12.47, matahari berdiri tegak di atas kota. Aspal memantulkan panas, dan udara terasa begitu menyengat. Di sebuah ruang kerja sederhana, seorang pria duduk termenung. Tak ada siapa pun di ruangan itu.  Tangannya diam. Tenggorokannya kering. Di depannya tergeletak segelas air. Tak ada kamera. Tak ada saksi, dan tak ada seorang pun yang akan tahu,  bila ia meminum air itu.  Namun ia diam saja, sama sekali tidak menyentuh gelas itu. Ternyata ia sedang berpuasa.

Itulah salah satu fenomena berpuasa, yang sejatinya bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus. Puasa adalah tentang kesadaran bahwa ada Yang Melihat, meski tak ada seorang pun manusia yang melihatnya.

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad dan dicatat dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim, Allah SWT berfirman ; “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Kalimat ini turun lebih dari empat belas abad lalu, namun gaungnya masih terasa hingga hari ini, di kantor-kantor, di jalanan, di tempat ibadah, dan di beragam tempat lainnya

Puasa memang berbeda dengan ibadah lain. Puasa tidak meninggalkan jejak fisik yang jelas. Shalat memiliki riwayat gerakan. Sedekah memiliki riwayat transaksi. Haji memiliki riwayat perjalanan. Puasa justru tidak memiliki jejak dan tidak terlihat. Dan di situlah letak kekuatan puasa, lantaran sesuatu yang tidak terlihat tidak mudah untuk dipalsukan.

Pertanyaannya kemudian. mengapa  di antara semua ibadah itu, hanya puasa yang secara langsung disebut sebagai urusan Tuhan ?

Untuk memahami itu, kita harus melihat apa yang sebenarnya terjadi pada saat manusia sedang berpuasa.

Secara alamiah, tubuh manusia adalah rezim yang terbiasa berkuasa. Ia memerintah tanpa perlawanan. Ketika lapar, tubuh harus diberi makan. Ketika haus, tubuh harus diberi minum. Ketika tubuh  menginginkan sesuatu, maka ia harus dipenuhi. Namun saat Ramadhan tiba, sebuah revolusi diam-diam berlangsung. Tiba-tiba, tubuh tidak lagi berdaulat. Ia meminta, tetapi tidak selalu diberi. Ia memohon, tetapi harus menunggu.

Dalam perspektif psikologi kontemporer, fenomena  pengendalian impuls ini adalah inti dari kematangan mental seseorang. Penelitian yang dikenal sebagai Stanford Marshmallow Experiment menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan berkorelasi dengan stabilitas emosional dan keberhasilan hidup seseorang dalam jangka panjang.

Pada titik ini, puasa melampaui sekadar pengendalian diri. Puasa bukan hanya latihan psikologis. Ia adalah latihan teologis, lantaran yang menahan manusia saat berpuasa, bukan sekadar kehendaknya, pun  kesadaran akan hadirnya Tuhan.

Data kriminalitas di banyak negara mayoritas Muslim menunjukkan pola yang menarik selama Ramadhan berlangsung, dimana tingkat kejahatan tertentu menurun. Alasannya bukan lantaran aparat penegak hukum bertambah.