Oleh: Temu Sutrisno

​Dalam narasi penciptaan, Iblis bukanlah sosok yang datang dari ruang hampa ketaatan. Ia adalah “sang pakar” ibadah, makhluk yang konon pernah menghuni barisan terdepan para malaikat. Namun, sejarah mencatatnya sebagai kegagalan teologis terbesar sepanjang masa. Bukan karena ia berhenti memercayai Tuhan, melainkan karena ia gagal memahami bahwa cinta kepada Sang Khalik tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap makhluk-Nya.

​Iblis adalah representasi dari sebuah tragedi spiritual. Sosok yang terpeleset di puncak pendakiannya sendiri dan jatuh ke dalam jurang keingkaran yang berbalut jubah ketauhidan.

​​Tragedi ini bermula ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan) kepada Adam. Di sini Iblis melakukan sebuah “kesalahan logika” yang fatal. Iblis memaknai tauhid secara kaku dan buta. Dalam nalar Iblis, ketertundukan hanya boleh diberikan kepada Allah semata. Ia merasa menjadi pembela kemurnian iman dengan menolak menghormati manusia.

​Namun, di balik argumen religiusnya, tersimpan sebuah manipulasi iman. Iblis menggunakan Tuhan untuk membenarkan kebenciannya. Iblis lupa bahwa perintah menghormati manusia datang langsung dari Tuhan yang ia klaim sebagai yang dicintainya. Ketika ia menolak perintah Tuhan dengan alasan,”demi menjaga kemurnian hubungan dengan Tuhan,” saat itu ia sedang menyembah egonya sendiri, bukan Sang Pencipta.

​Iblis terjebak dalam apa yang bisa kita sebut sebagai narsisme spiritual. Ia merasa lebih tahu dari Tuhan tentang bagaimana cara mencintai Tuhan.

​Jebakan Eksklusivisme dan Asal-Usul