Di balik rindangnya pepohonan yang selama ini memberi keteduhan, tersimpan ancaman yang kian nyata ketika perawatan tak lagi menjadi prioritas. Sayutin menyoroti bahwa persoalan ini bukan hanya soal keselamatan pengguna jalan, tetapi juga berdampak pada kerusakan infrastruktur kota.
Akar pohon yang tidak terkendali, lanjutnya, telah merusak drainase, trotoar, hingga badan jalan, menambah daftar persoalan yang harus segera ditangani secara serius dan terencana.
Insiden nahas tersebut menimpa Ehzan, balita laki-laki berusia 4 tahun yang meninggal dunia di lokasi kejadian. Dua korban lainnya, Julita (41) dan Safa (16), warga Desa Boyantongo, mengalami luka-luka dan kini masih menjalani perawatan medis.
Tak hanya itu, pohon tumbang juga dilaporkan menimpa salah satu rumah warga di sekitar lokasi, memperlihatkan betapa luas dampak yang ditimbulkan dari satu kelalaian yang mungkin selama ini dianggap sepele.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan publik tidak boleh ditunda. Di tengah upaya pembangunan dan penataan kota, perhatian terhadap hal-hal mendasar seperti perawatan pohon pelindung menjadi bagian penting yang tak boleh diabaikan—agar duka serupa tak kembali terulang di kemudian hari. AJI

