“Buddha Gautama merupakan pendiri agama Buddha, represetasenya Rupang Buddha. Kita bisa mengenal tidak hanya ajarannya, tetapi juga orangnya,” kata YM. Dhammasubho Mahathera dalam konferensi pers di Vihara Karuna Dipa, Ahad (12/4/2026).

“Pengecoran Ruppang Buddha di Palu merupakan simbol pelibat, dibagi-bagi, setiap bagiannya di cetak di berbagai daerah binaan STI. Palu mewakili Sulawesi, nanti setelah bagian-bagiannya tercetak semua menjadi utuh di Jakarta, bentuk utuh Buddha Ruppang setinggi lima meter. Ini nanti akan ditempatkan di Vihara IKN,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Dirjen Bimbingan Masyarakat (Binmas) Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi mengatakan, Pemerintah mendukung penuh gagasan dan kegiatan yang dilakukan STI sebagai instrumen spiritualitas.

“Kami dari Kementerian Agama memastikan bahwa apa yang dilakukan telah memenuhi kaidah-kaidah keselamatan kerja. Dari sisi agama, bahwa apa yang dilakukan bukan sekadar menumpahkan timah yang sudah dipanaskan, tetapi ada satu instrumen spiritualitas itu sendiri,” kata Supriyadi.

Menurutnya, pembuatan replika Ruppang Buddha yang ditemukan di Candi Sewu menjadi upaya strategis melestatikan budaya yang telah mengakar di Indonesia.”Ini adalah bagian dari ekosistem moderasi beragama. STI, yang sudah lama berkiprah di bumi Nusantara ini, mengangkat akar budaya kita dengan mengambil ruppang yang betul-betul ada di Indonesia,” tutupnya. RHT