Di sisi lain, sektor pertanian dan perkebunan tetap menjadi tulang punggung yang tidak ditinggalkan. Komoditas durian, yang kini mulai dikembangkan secara modern melalui fasilitas packing house, menunjukkan potensi menjanjikan.
Industri ini bukan hanya soal ekspor, tetapi juga tentang penyerapan tenaga kerja yang terus meningkat seiring bertambahnya produksi. Berbagai program strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah turut menguatkan arah pembangunan tersebut. Melalui program “Berani Cerdas”, akses pendidikan diperluas bagi generasi muda.
Sementara “Berani Sehat” menghadirkan layanan kesehatan gratis yang telah dirasakan puluhan ribu masyarakat sepanjang tahun 2025. Pembangunan infrastruktur jalan dan jaringan listrik pun terus dipacu untuk membuka keterisolasian wilayah.
Pada momentum tersebut, penghargaan juga diberikan kepada para tokoh pejuang pemekaran Kabupaten Parigi Moutong—sebuah pengingat bahwa kemajuan hari ini berdiri di atas perjuangan masa lalu. Selain itu, berbagai bantuan turut disalurkan, mulai dari dana CSR Bank Sulteng sebesar lebih dari Rp1,08 miliar, bantuan pendidikan, hingga peluncuran penyaluran pangan berupa beras dan minyak kelapa bagi masyarakat.
Di ujung sambutannya, gubernur menegaskan posisi strategis Parigi Moutong dalam peta pembangunan daerah. Ia menyebut, kemajuan Sulawesi Tengah tidak dapat dilepaskan dari kemajuan Parigi Moutong itu sendiri.
Di usia ke-24 ini, Parigi Moutong seolah berdiri di persimpangan penting—antara potensi sumber daya alam dan peluang industrialisasi. Dari tambang nikel hingga durian, dari desa hingga kawasan industri, daerah ini tengah menyulam harapan menjadi kekuatan baru: pusat industri yang tumbuh, sekaligus ladang kesempatan kerja bagi masa depan masyarakatnya.
Turut hadir pada upacara tersebut Pangdam Palaka Wira, Kajati Sulteng, sejumlah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten di Sulteng serta tamu undangan lainnya. AJI
