Sementara itu, Rektor Universitas Tadulako, Amar, dalam sambutannya menegaskan bahwa seminar tersebut sangat relevan dengan tantangan demokrasi saat ini, khususnya dalam memperkuat fondasi integritas penyelenggaraan pemilu. Ia menegaskan bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh aspek prosedural, tetapi juga oleh integritas lembaga yang menjalankan proses demokrasi tersebut.

Menurut Amar, terdapat sejumlah aspek mendasar yang perlu diperhatikan dalam memperkuat penyelenggaraan pemilu yang berintegritas. Pertama, lembaga penyelenggara pemilu harus mampu menjaga kepercayaan publik sebagai modal utama demokrasi. Kedua, proses penyelenggaraan pemilu harus mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Ketiga, diperlukan profesionalisme serta kompetensi yang memadai dari para penyelenggara pemilu.

Keempat, penegakan etika dan hukum harus menjadi instrumen utama dalam menjaga marwah lembaga penyelenggara pemilu. Kelima, pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemilu harus dilakukan secara berintegritas sehingga sistem digitalisasi pemilu tetap aman dan dapat dipercaya.

Ia juga menyoroti tingginya ekspektasi publik terhadap penyelenggara pemilu yang tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam menjaga integritas.

Hal tersebut, menurutnya, mencakup kemampuan menyediakan data yang kredibel dan akurat, membangun kepercayaan publik, serta bersikap adaptif terhadap potensi polarisasi sosial yang kerap muncul dalam kontestasi politik.

Dalam perspektif yang lebih luas, Amar menekankan bahwa masa depan demokrasi Indonesia bergantung pada kualitas demokrasi yang lebih substantif, yakni demokrasi yang adil, berkeadaban, dan tidak sekadar prosedural.

Ia juga menegaskan pentingnya partisipasi publik yang lebih cerdas, penguatan kelembagaan penyelenggara pemilu, serta pendidikan politik yang berkelanjutan agar masyarakat memahami hak dan kewajiban mereka secara utuh dalam kehidupan demokrasi. Seminar tersebut turut menghadirkan anggota DKPP RI, Muhammad Tio Aliansyah, sebagai keynote speaker yang memaparkan pentingnya penguatan integritas sebagai fondasi legitimasi pemilu.

Selain itu, sesi diskusi panel juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penyelenggara pemilu, yakni Nurhayati Mardin dari Universitas Tadulako, Sahran Raden dari UIN Datokarama Palu, Abdullah dari Universitas Muhammadiyah Palu, serta Rasyidi Bakri yang merupakan anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah. ENG