Namun di tengah capaian tersebut, tantangan masih membayangi. Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dinilai belum optimal, terutama karena belum adanya regulasi tata niaga yang kuat dan terstruktur. “Bukan karena tidak ada potensi, tapi karena regulasi belum hadir untuk mengikat dan mengarahkan,” ungkapnya.
Meski demikian, Faradiba menegaskan bahwa apa yang terjadi hari ini merupakan implementasi nyata dari Program 9 BERANI. Di sektor hulu, penguatan terlihat melalui perluasan kebun, distribusi bibit unggul, dan pendampingan petani.
Sementara di sektor hilir, hilirisasi diwujudkan lewat penguatan packing house, pengolahan produk, hingga akses pasar global. “Hulu sudah bergerak, hilir sudah jalan, pasar sudah terbuka. Ini adalah Program BERANI yang benar-benar hidup di Parigi Moutong,” katanya.
Ke depan, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam membuka ruang yang lebih luas bagi dunia usaha—mulai dari penyusunan regulasi, penguatan infrastruktur logistik, hingga penciptaan iklim investasi yang kondusif. “Dunia usaha siap berlari, tapi membutuhkan pemerintah untuk membuka jalannya,” ucapnya.
Di ujung forum, optimisme itu ditegaskan kembali. Parigi Moutong kini tidak lagi berdiri sebagai daerah dengan potensi semata, tetapi sebagai wilayah produksi yang telah menembus pasar global. “Jika kita serius menjalankan Program 9 BERANI secara kolaboratif, maka bukan hanya durian yang kita panen, tapi kesejahteraan masyarakat,” tutup Faradiba.
Sebuah ajakan pun dibuka bagi daerah lain di Sulawesi Tengah untuk ikut bergerak bersama. KADIN Parigi Moutong, katanya, siap menjadi jembatan antara potensi daerah dan investor. Dan dari setiap buah durian yang jatuh ke tanah, harapan itu terus tumbuh—menjadi nilai ekonomi, menjadi kesejahteraan, dan menjadi masa depan bagi masyarakat. AJI
