Lebih jauh, Faradiba menilai kehadiran Rumah Produksi Pondok Durian Sulawesi sebagai contoh konkret bahwa potensi lokal dapat dikelola secara profesional dan bernilai tinggi. Usaha yang digagas oleh pelaku lokal seperti Pak Yan Dollar (Wayan) dan Ibu Maria, disebutnya sebagai representasi nyata kekuatan ekonomi masyarakat setempat.

Di tengah persaingan usaha yang semakin terbuka, ia menegaskan bahwa pengusaha lokal Parigi Moutong tidak kalah dalam hal kualitas, inovasi, maupun semangat. “Ini membuktikan bahwa pengusaha lokal kita tidak kalah hebat dengan pelaku usaha dari luar daerah,” tegasnya.

Capaian tersebut sekaligus menjadi cermin bahwa potensi daerah, jika dikelola oleh tangan-tangan lokal dengan kesungguhan, mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Kadin Parigi Moutong berkomitmen untuk terus membuka ruang, memperkuat jejaring, dan mendukung pelaku usaha agar terus berkembang.

Lebih dari sekadar apresiasi, Faradiba juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mengambil bagian dalam membangun ekonomi daerah—dimulai dari mendukung produk lokal. “Kami berharap semakin banyak yang terinspirasi untuk memulai usaha dan memanfaatkan potensi daerah. Mari bersama-sama mendukung produk lokal sebagai kekuatan ekonomi kita,” pungkasnya.

Di Desa Masari, cerita tentang durian kini bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang harapan. Harapan bahwa dari tanah sendiri, lahir pengusaha-pengusaha tangguh yang siap bersaing, membawa nama Parigi Moutong melampaui batas wilayahnya. AJI