Namun di balik dorongan investasi, Gubernur juga mengingatkan prinsip keadilan. Ia menegaskan pentingnya memastikan hasil petani dihargai secara layak serta hak-hak tenaga kerja terpenuhi.
Pelanggaran terhadap dua hal tersebut, tegasnya, tidak akan ditoleransi.
Lebih jauh, keberadaan facking house itu diharapkan menjadi penguat program “Berani Panen Raya” sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis komoditas unggulan, khususnya durian yang telah menjadi identitas Parigi Moutong.
Sementara itu, Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, menilai kehadiran Gubernur dalam peresmian tersebut sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah provinsi terhadap penguatan sektor pertanian daerah.
Ia menuturkan, Parigi Moutong memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan, dengan durian sebagai salah satu komoditas unggulan yang telah dikenal luas karena kualitas rasa dan aromanya. Namun, tantangan selama ini terletak pada aspek pascapanen, akses pasar, serta standarisasi produk.
Di sinilah peran packing house menjadi krusial.
Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengemasan, tetapi juga sebagai pusat peningkatan kualitas, standarisasi, hingga penguatan rantai pasok. “Dengan proses grading, sortasi, hingga pengemasan modern, kita optimistis durian Parigi Moutong mampu menembus pasar ekspor secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Pada Februari 2026, untuk pertama kalinya durian asal Parigi Moutong berhasil menembus pasar Tiongkok dengan volume mencapai 27 ton—sebuah capaian yang disebut sebagai hasil kerja keras bersama antara pelaku usaha dan pemerintah.
Wabup Abdul Sahid pun menyampaikan apresiasi kepada PT Pondok Durian Sulawesi atas komitmen dan investasi yang telah diwujudkan. Baginya, pembangunan fasilitas ini merupakan langkah strategis dalam mengangkat nilai tambah komoditas lokal.
Peresmian packing house ini sekaligus menjadi pesan terbuka bahwa Parigi Moutong kian siap menjadi daerah tujuan investasi yang produktif. Di tengah geliat hilirisasi, durian tak lagi hanya dipanen—ia kini diproses, dikemas, dan dipersiapkan untuk menembus pasar dunia, membawa serta harapan baru bagi kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. AJI
