Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tantangan tidak hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Praktik-praktik yang mengabaikan standar kualitas justru berpotensi menjadi ancaman paling serius bagi keberlanjutan pasar.

“Saya menegaskan, manipulasi kualitas, pencampuran buah tidak layak ekspor, serta ketidakkonsistenan pasokan harus dihentikan. Pasar global tidak bisa ditipu. Sekali kepercayaan hilang, maka peluang akan tertutup untuk semua,” ujarnya dengan nada tegas.

Namun di balik tekanan itu, tersimpan peluang strategis yang tidak kecil. Ketika negara pesaing menghadapi hambatan, Indonesia memiliki ruang untuk tampil sebagai pemasok alternatif di pasar Tiongkok. Peluang ini, menurutnya, hanya bisa diraih jika seluruh rantai pasok bergerak dalam satu standar: kualitas, disiplin, dan konsistensi.

Melalui pernyataan tersebut, KADIN Parigi Moutong juga menyampaikan imbauan tegas kepada petani dan supplier durian, khususnya di wilayah Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah, agar menjadikan momentum ini sebagai titik balik pembenahan industri.

Para pelaku usaha diharapkan menjaga kualitas tanpa kompromi, menerapkan standar panen dan sortir yang ketat, serta membangun komitmen jangka panjang dalam menjaga kepercayaan pasar global. “Lebih baik tidak mengirim produk, daripada mengirim dan merusak nama daerah. Kepercayaan adalah modal utama dalam perdagangan global,” tuturnya.

Pada akhirnya, momentum ini bukan sekadar peluang sesaat, melainkan panggilan untuk berbenah. Pasar global, kata Faradiba, tidak memberi ruang bagi yang belum siap. “Pasar tidak menunggu yang siap nanti. Pasar hanya memberi ruang kepada mereka yang siap hari ini. Ini saatnya Parigi Moutong dan Sulawesi Tengah membuktikan diri sebagai bagian dari pemain utama durian dunia,” pungkasnya. AJI