SULTENG RAYA – Gelombang perubahan tengah mengguncang pasar durian dunia. Di tengah dinamika yang bergerak cepat, Indonesia justru berada di persimpangan penting—antara ancaman yang nyata dan peluang yang terbuka lebar.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, membaca situasi ini sebagai sinyal kuat bahwa lanskap perdagangan durian global sedang mengalami pergeseran signifikan.

Perubahan tersebut bukan hanya soal fluktuasi harga, melainkan menyangkut arah baru pasar yang semakin ketat, selektif, dan berbasis kepercayaan.

Dalam perkembangan terbaru, Vietnam untuk sementara menghentikan ekspor durian ke Tiongkok akibat pengetatan standar keamanan pangan. Di sisi lain, Thailand yang selama ini dikenal sebagai pemain utama, menghadapi kendala distribusi yang berdampak pada anjloknya harga di tingkat petani, sekaligus mendorong sebagian produksi beralih ke durian beku.

Kondisi ini secara langsung mengubah peta kekuatan di pasar Tiongkok. Para pembeli kini berada di posisi dominan, menahan harga dan memperketat seleksi kualitas. Situasi “buyer market” pun tak terelakkan—hanya produk dengan mutu unggul dan pasokan konsisten yang mampu bertahan dan bersaing.

Di tengah tekanan tersebut, Faradiba menegaskan bahwa pelaku usaha durian di Indonesia tidak boleh lengah membaca situasi. Ia menyebut kondisi ini sebagai ujian nyata, bukan sekadar gejolak sementara. “Ini bukan sekadar penurunan harga, tetapi ujian terhadap kualitas, integritas, dan kesiapan kita memasuki pasar global,” tegasnya, Kamis (26/3/2026).