Tampaknya Masyarakat Palu, harus menunda dulu pelaksanaan takbirannya hingga paling tidak pukul 19.00 (setelah Magrib), karena masih harus menunggu terbenamnya matahari di matlak Aceh (ujung paling barat Indonesia).
Adakah kemungkinan Lebarannya sama-sama di 20 Maret 2026?
Insya Allah ada kemungkinan dengan melihat: Bahwa umur bulan di atas 6 jam setelah ijtimak atau konjungsi, biasanya sudah bisa terlihat karena jaraknya sudah memungkinkan untuk dirukyat, apalagi sudut elongasi yang melebar, juga bisa dipantau sebagai hilal karena tidak lagi siluet tertutup kuatnya Cahaya matahari.
Ijtimak atau Konjungsi atau Bumi, Bulan dan Matahari berada pada satu garis edar, yang menjadi tanda berakhirnya perjalanan satu periode bulan sinodis (Ramadhan) terjadi pada pukul 08.23 WIB sedangkan Magrib atau tenggelamnya matahari di ufuk barat Aceh terjadi sekitar pukul 18.51 WIB.
Untuk matlak Palu, ketinggian bulan diperkirakan berada di posisi 2 derajat, sehingga masih sangat kecil bisa terlihat. Namun tetap ada potensi dengan melihat beberapa kasus sebelumnya, jika kondisi langit cerah, ketinggian 2 derajat bisa terlihat di matlak Masaingi (tempat pemantauan hilal Kanwil Kemenag Sulteng).
Ketinggian bulan lebih tinggi diperkirakan akan tampak di wilayah Indonesia Barat, yakni Sumatera. Di Padang Sumatera Barat, ketinggian bulan diperkirakan berada pada posisi 3 derajat. Sedangkan Aceh, berada pada posisi 3,1 derajat.
Pada penentuan awal Ramadhan 1446 H yang lalu, ketinggian bulan di Aceh pada posisi 3 derajat, sudah terlihat hilal. Maka secara teori, jika langit Aceh tidak terhalang awan pada 29 Ramadhan (versi Rukyat) atau 30 Ramadhan (versi KHGT), semestinya hilal atau bulan baru berpotensi terlihat.
Sebagai perbandingan, Pada pemantauan rukyatul hilal Rabiul Akhir 1447H di Aceh, dilaporkan hilal terlihat meskipun tingginya hanya 1,9 derajat namun dengan elongasi 7,66 derajat.
Wallahu’alam Bish Shawab ***