Kadang-kadang dalam hidup kita banyak kesalahan, banyak kekurangan, bahkan mungkin banyak dosa yang kita lakukan tanpa sadar. Maka 10 malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Bayangkan, jika satu malam saja kita benar-benar khusyuk beribadah, meneteskan air mata dalam doa, memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni dosa-dosa kita. Betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Ramadhan tidak berlangsung lama. Hari-harinya begitu cepat berlalu. Oleh karena itu jangan sampai 10 malam terakhir ini kita lalui dengan kelalaian. Jangan hanya sibuk dengan urusan dunia, sementara malam-malam yang penuh keberkahan justru terlewat begitu saja.
Tradisi i’tikaf di masjid yang dilakukan Nabi Muhammad SAW juga menjadi simbol bahwa 10 malam terakhir bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum pengasingan diri dari hiruk pikuk dunia untuk mendekat kepada Allah SWT.
Mari kita manfaatkan malam-malam ini dengan ibadah, dengan doa, dengan membaca Al-Qur’an, dan dengan memperbanyak amal kebaikan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pesan ini terasa semakin relevan. Banyak orang menjalani Ramadhan dengan ritme yang padat, bekerja di siang hari, menghadiri berbagai kegiatan sosial, hingga berburu hidangan berbuka.
Tanpa disadari, Ramadhan bisa berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas mendalam dalam jiwa. Nah, 10 malam terakhir hadir sebagai pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya.
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Semoga Allah menerima puasa kita, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang lebih baik setelah Ramadhan. Amiin yaa rabbal aalamiin. *