Ulama besar seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia itu seperti cermin. Jika ia tidak dibersihkan secara berkala, ia akan tertutup debu dunia hingga tidak lagi mampu memantulkan cahaya ilahi. Nah, shalat adalah proses membersihkan cermin hati itu.

Meski pada awalnya, banyak orang menjalankan shalat sebagai kewajiban. Dimana shalat dilakukan lantaran takut dosa. Shalat dikerjakan lantaran takut hukuman. Seiring waktu, makna shalat mulai berubah. Ia tak lagi terasa seperti tugas dan kewajiban. Shalat kemudian menjadi tempat pulang manusia saat ia lelah menjalani hidupnya.

Para sufi menyebutnya sebagai mi’raj ruhani, atau tangga yang membawa jiwa naik dari kesibukan dunia menuju keheningan Ilahi.

Penyair mistik besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia seperti burung yang terbang jauh dari sarangnya. Sepanjang hidupnya ia mencari tempat kembali, lantaran ia sering tidak sadar seputar apa yang sebenarnya ia cari. Dan saat shalatlah, manusia menemukan tempat bagi jiwanya untuk beristirahat dari kegaduhan dunia.

Namun ironisnya, banyak manusia baru menyadari kebutuhan akan shalat ini ketika hidupnya mulai retak dan hancur. Saat dirinya ditimpa musibah. Saat dirinya kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai, dan seterusnya. Saat semua sandaran dunia runtuh, manusia akhirnya menyadari bahwa satu-satunya tempat bersandar hanyalah kepada Tuhan.

Pada saat-saat seperti itulah, shalat berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Ia bukan lagi kewajiban. Shalat kemudian menjadi pelukan Tuhan yang tak terlihat. Di sinilah paradoks shalat. Bagi yang belum memahami maknanya, shalat terasa seperti beban. Namun bagi yang telah merasakan lezatnya shalat, meninggalkan shalat justru terasa seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Sehingga shalat bagi dirinya, tidak lagi menjadi kewajiban yang dipikul.

Ia menjadi kebutuhan yang dirindukan. Seperti seseorang yang rindu pulang setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Dan mungkin…
Di sinilah makna pentingnya shalat. Bahwa Tuhan tidak memaksa manusia demi kepentingan-Nya. Tuhan ternyata mewajibkan sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan manusia, lantaran manusia sering lupa dan tidak menyadari kebutuhannya sendiri.

Bagaimanapun juga, shalat adalah sumur yang ditempatkan Tuhan untuk melepaskan dahaga spiritual manusia. Sebagian orang datang ke sumur itu karena diperintah. Sebagian lagi, datang karena haus. Namun ketika air sumur itu menyentuh hati mereka, semua orang akhirnya memahami satu hal yang sama, bahwa selama ini yang membutuhkan shalat bukanlah Tuhan, melainkan manusia itu sendiri. Iya gak ? Weleh, weleh, weleh.,*