Jika dilihat dari penyebabnya, banjir di Tolitoli memang dipicu oleh faktor alam. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat menyebabkan volume air sungai meningkat secara drastis. Dalam peristiwa banjir tersebut, BPBD menyebutkan bahwa meluapnya Sungai Lembe menjadi salah satu penyebab utama air menggenangi kawasan permukiman warga.

Namun demikian, faktor alam bukan satu-satunya penyebab banjir. Aktivitas manusia juga berperan dalam memperparah kondisi tersebut. Berkurangnya daerah resapan air akibat alih fungsi lahan membuat air hujan tidak lagi terserap dengan baik oleh tanah. Akibatnya, air hujan langsung mengalir ke sungai dan meningkatkan risiko banjir di wilayah permukiman. Selain itu, sistem drainase yang kurang memadai juga menjadi masalah yang sering terjadi di kawasan perkotaan. Saluran air yang tidak terawat atau tersumbat oleh sampah dapat menghambat aliran air ketika hujan deras turun, mempercepat terjadinya genangan, dan sekaligus meningkatkan risiko penyakit.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa banjir di Tolitoli merupakan hasil dari kombinasi antara faktor alam dan ulah manusia. Hujan dengan intensitas tinggi memang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika lingkungan dikelola dengan baik, sistem infrastruktur kota dirancang secara matang, dan aspek kesehatan masyarakat diperhatikan secara serius.

Oleh karena itu, upaya penanganan banjir tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan saat bencana terjadi. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menjaga lingkungan, memperbaiki sistem drainase, serta mengelola daerah aliran sungai dengan lebih baik. Di sisi kesehatan, perlu disiapkan lokasi pengungsian yang aman dan higienis, fasilitas air bersih dan sanitasi, serta layanan kesehatan darurat untuk mencegah penyakit pasca-banjir. Dengan langkah-langkah terpadu tersebut, diharapkan banjir di Tolitoli tidak lagi menjadi bencana yang terus berulang setiap tahun dan tidak menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.