Makanan yang terbuat dari Ubi Kayu sejak jaman Portugis tersebut, tentu punya sejarah yang sangat lama. Kalau orang pertanian berteori atau berhipotesis bahwa ubi kayu menguras kesuburan tanah. Maka, apa yang terjadi di daerah Maluku ini, tidak terbukti. Karena, kebun ubi kayu di kawasan ini tidak pernah dipupuk dan hasilnya tetap stabil.
Ini adalah makanan asli bagi ku (native food). Dimakan sejak kecil. Dia telah menyatu dengan tubuh sebagai selera abadi yang dirindukan. Karena itu, kemana-mana selalu saya bawa pergi. Pernah satu waktu dibawa ke England tahun 2018. Saya sandingkan di antara capuccino dan sandwich. Di satu restoran dari sebuah mall di tengah kota Bermingham. Banyak sekali pengunjung memadati resto itu dengan berbagai hidangan makanan dan minuman. Seketika, ku keluarkan satu lempeng sagu kasbi alias hula keta. Ku rendam dalam air teh manis. Sensasinya terasa sekali.
Kemudian tahun 2024, saya bawa ke Mekah saat umrah. Di cofe Bandara Jeddah, saya sandingkan di antara cafe hitam, croissant dan roti coklat (pain au Chocolat). Dua yang terakhir ini adalah roti khas bangsa Perancis yang juga menjadi kegemaran ku.
Di pelataran Ka’bah, saya berdoa. Semoga bahan baku bernama tanaman Ubi Kayu (manihot utulisima) ini tetap bisa tumbuh di kebun-kebun Indonesia. Tidak tergusur oleh godaan investasi industri ekstraktif. Perkebunan atau pun pertambangan. Dengan begitu, Hula Keta terus bisa diproduksi sebagai kekuatan pangan lokal. Supaya, orang seperti ku masih bisa menikmatinya. Dan, mewariskannya kepada generasi. Sekarang dan akan datang. Amin yaa Rabb.***